PERKEMBANGAN MASA PRANATAL DAN NATAL

 

PERKEMBANGAN MASA PRANATAL

Perkembangan masa pranatal dibagi menjadi tiga :

• Periode germinal

Periode awal yaitu periode perkembangan pranatal yang berlangsung pada 2 minggu pertama setelah pembuahan, meliputi : penciptaan zigot, pemecahan sel dan melekatnya zigot ke dinding kandungan

• Periode embrio

Terjadi dari 2 minggu hingga 8 minggu setelah pembuahan, jumlah sel meningkat dan organ-organ mulai tampak. Sistem dukungan terbentuk : ari-ari dan tali pusar

• Periode fetal

Mulai 2 bulan setelah pembuahan dan pada umumnya berlangsung selama 7-9 bulan

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan pranatal

• Penyakit dan kondisi ibu

Penyakit atau infeksi yang terjadi pada ibu hamil dapat mengakibatkan kelainan. Rubella (campak jerman) adalah penyakit ibu yang dapat merusak perkembangan pranatal : bayi meninggal atau lahir cacat –> keterbelakangan mental, buta, tuli

• Herpes alat kemaluan

Bayi yang lahir terkena virus ini ketika keluar melalui saluran kelahiran, akibat : bayi meninggal atau bayi hidup mengalami kerusakan otak

• AIDS

Ada tiga cara seorang ibu yang menderita AIDS dapat menginfeksi anaknya :

Selama hamil melalui ari-ari, selama melahirkan melalui kontak dengan darah atau cairan ibu, setelah melahirkan melalui susu

• Usia ibu

Usia ibu dianggap sebagai faktor yang mungkin membahayakan bagi janin dan bayi. Ada dua periode yang perlu diperhatikan :

Masa remaja

Angka kematian bayi yang dilahirkan remaja dua kali lebih banyak dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan ibu pada usia 20 tahunan, hal ini mungkin terjadi karena ketidakmatangan sistem reproduksi, gizi buruk, kurang perawatan pranatal dan rendahnya status sosial ekonomi

Usia 30 tahun keatas

Semakin banyak wanita yang berkarier dan menunda usia pernikahan, resiko pada bayi : keterbelakangan mental

Gizi

Jumlah total kalori, protein, mineral dan vitamin. Ibu dengan gizi buruk cenderung memiliki anak dengan berat badan rendah, kurang aktif, prematur atau meninggal

Minum-minuman keras

Sidrom alkohol janin (fetal alcohol syndrome) : kecacatan wajah, tungkai dan lengan, IQ dibawah rata-rata, keterbelakangan mental

Keadaan dan ketegangan emosi

Ibu hamil yang mengalami ketakutan, kecemasan dan emosi lain yang mendalam meningkatkan produksi hormon andrenalin yang akan menghambat aliran darah ke daerah kandungan dan membuat janin kekurangan udara. Ketegangan emosi ibu yang terjadi pada saat persalinan akan membuat kontraksi tidak teratur yang dapat menyebabkan ketidakteraturan pasokan oksigen ke bayi.

Obat-obatan

Memakan obat-obatan yang salah pada waktu yang salah akan merusak anak secara fisik : sejumlah bayi lahir cacat

Rokok

Menghisap rokok dapat berdampak buruk bagi perkembangan janin : kematian, perkembangan bahasa dan kognitif yang buruk, masalah pernafasan dan kematian bayi yang tiba-tiba

Konsumsi mariyuna dan obat-obatan terlarang

Bayi lahir memperlihatkan karakteristik : gemetar, mudah sakit, gangguan tidur, dan rusaknya kendali gerak

Bahaya lingkungan

radiasi, zat kimia, dan resiko lain di dalam dunia industri modren dapat membahayakan janin. Radiasi sinar X, limbah : merkuri dan timbal.

Toxoplasmosis

Suatu infeksi yang dapat menyebabkan gejala flu atau penyakit yang tidak jelas pada ibu hamil yang menyebabkan kerusakan mata, otak dan lahir prematur

MASA NATAL

•Tahap kelahiran

Terjadi dalam tiga tahap

Tahap pertama, konstraksi semakin sering. Pada akhir tahap pertama kontraksi akan memperlebar leher rahim sekitar 4 cm sehingga bayi bergerak dari peranakan ke saluran lahir

Tahap kedua, kepala bayi mulai bergerak melalui leher rahim dan saluran kelahiran, tahap berakhir ketika bayi benar-benar keluar dari tubuh ibu

Tahap ketiga(setelah kelahiran), pada waktu ini ari-ari, tali pusar dan selaput lain dilepaskan dan dibuang

Tahap kelahiran

•Komplikasi melahirkan

•Melahirkan terlalu cepat (usia kandungan kurang dari 9 bulan)

•Sungsang

•Pembedahan cesar

•Pembedahan dengan alat bantu : tang atau vakum

•Penggunaan obat untuk mempercepat proses melahirkan

•Ukuran kesehatan dan respon bayi baru lahir

Skala APGAR adalah metode yang digunakan untuk mengukur kesehatan bayi yang baru lahir pada 1 dan 5 menit setelah bayi dilahirkan. Skala ini mengevaluasi angka appearance, pulse, grimace, activity, refleks

•Bayi yang beresiko tinggi

Bayi prematur : bayi lahir sebelum 38 minggu setelah pembuahan

Bayi lahir dengan berat badan rendah : bayi lahir setelah periode kehamilan normal, berat kurang dari 2,5 kg

PERIODE PASCA MELAHIRKAN

•Penyesuaian fisik

Tubuh ibu melakukan penyesuaian fisik pada hari dan minggu pertama setelah kelahiran, kelelahan dapat mengganggu ibu dalam menghadapi bayi

•Penyesuaian psikologis

Naik turunnya emosi lazim bayi ibu yang baru melahirkan karena ibu mengalami perubahan hormon, kelelahan, kurang pengalaman dalam menghadapi bayi.

Bagi sebagian ibu, kondisi ini hilang dalam beberapa minggu. Ada sebagian ibu yang lain mengalami dalam waktu yang cukup lama dan menghasilkan perasaan cemas dan depresi

 

 

Daftar Pustaka

•Santrock.J.W.2000. Perkembangan Rentang Kehidupan. Jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga

•Monks.F.J.; Knoers.A.M.P. dan Haditono.S.R. 1992. Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

PERSPEKTIF DALAM PSIKOLOGI SOSIAL

 

 Akar awal Psikologi Sosial

Walau psikologi sosial merupakan disiplin yang telah lama ada ( sejak Plato dan Aristotle), namun secara resmi, disiplin ini menjadi satu ilmu yang mandiri baru sejak tahun 1908. Pada tahun itu ada dua buku teks yang terkenal yaitu “Introduction to Social Psychology” ditulis oleh William McDougall – seorang psikolog – dan “Social Psychology : An Outline and Source Book , ditulis oleh E.A. Ross – seorang sosiolog.            Berdasarkan latar belakang penulisnya maka dapat dipahami bahwa psikologi sosial bisa di”claim” sebagai bagian dari psikologi, dan bisa juga sebagai bagian dari sosiologi. Psikologi sosial juga merupakan pokok bahasan dalam sosiologi karena dalam sosiologi dikenal ada dua perspektif utama, yaitu perspektif struktural makro yang menekankan kajian struktur sosial, dan perspektif mikro yang menekankan pada kajian individualistik dan psikologi sosial dalam menjelaskan variasi perilaku manusia.. Di Amerika disiplin ini banyak dibina oleh jurusan sosiologi – di American Sociological Association terdapat satu bagian yang dinamakan “social psychological section“, sedangkan di Indonesia, secara formal disiplin psikologi sosial di bawah binaan fakultas psikologi, namun dalam prakteknya tidak sedikit para pakar sosiologi yang juga menguasai disiplin ini sehingga dalam berbagai tulisannya, cara pandang psikologi sosial ikut mewarnainya.

Apakah perbedaan di antara Sosiologi dan Psikologi ??

Kita sering berpikir bahwa yang namanya dunia psikologi adalah dunia yang berkaitan dengan persoalan perasaan, motivasi, kepribadian, dan yang sejenisnya. Dan kalau berpikir tentang sosiologi, secara umum cenderung memikirkan persoalan kemasyarakatan. Kajian utama psikologi adalah pada persoalan kepribadian, mental, perilaku, dan dimensi-dimensi lain yang ada dalam diri manusia sebagai individu. Sosiologi lebih mengabdikan kajiannya pada budaya dan struktur sosial yang keduanya mempengaruhi interaksi, perilaku, dan kepribadian. Kedua bidang ilmu tersebut bertemu di daerah yang dinamakan psikologi sosial . Dengan demikian para psikolog berwenang merambah bidang ini, demikian pula para sosiolog. Namun karena perbedaan latar belakang maka para psikolog akan menekankan pengaruh situasi sosial terhadap proses dasar psikologikal – persepsi, kognisi, emosi, dan sejenisnya – sedangkan para sosiolog akan lebih menekankan pada bagaimana budaya dan struktur sosial mempengaruhi perilaku dan interaksi para individu dalam konteks sosial, dan lalu bagaimana pola perilaku dan interaksi tadi mengubah budaya dan struktur sosial. Jadi psikologi akan cenderung memusatkan pada atribut dinamis dari seseorang; sedangkan sosiologi akan mengkonsentrasikan pada atribut dan dinamika seseorang, perilaku, interaksi, struktur sosial, dan budaya, sebagai faktor-faktor yang saling mempengaruhi satu sama lainnya.

Pertanyaan yang paling mendasar yang senantiasa menjadi kajian dalam psikologi sosial adalah : ” Bagaimana kita dapat menjelaskan pengaruh orang lain terhadap perilaku kita?'”. Misalnya di Prancis, para analis sosial sering mengajukan pertanyaan mengapa pada saat revolusi Prancis, perilaku orang menjadi cenderung emosional ketimbang rasional? Demikian juga di Jerman dan Amerika Serikat dilakukan studi tentang kehadiran orang lain dalam memacu prestasi seseorang . Misalnya ketika seorang anak belajar seorang diri dan belajar dalam kelompok, bisa menunjukan prestasi lebih baik dibandingkan ketika mereka belajar sendiri. Gordon Allport (1968) menjelaskan bahwa seorang boleh disebut sebagai psikolog sosial jika dia “berupaya memahami, menjelaskan, dan memprediksi bagaimana pikiran, perasaan, dan tindakan individu-individu dipengaruhi oleh pikiran, perasaan, dan tindakan-tindakan orang lain yang dilihatnya, atau bahkan hanya dibayangkannya”

Teori-teori awal yang dianggap mampu menjelaskan perilaku seseorang, difokuskan pada dua kemungkinan  (1) perilaku diperoleh dari keturunan dalam bentuk instink-instink biologis – lalu dikenal dengan penjelasan “nature” – dan (2) perilaku bukan diturunkan melainkan diperoleh dari hasil pengalaman selama kehidupan mereka – dikenal dengan penjelasan “nurture”.  Penjelasan “nature” dirumuskan oleh ilmuwan Inggris Charles Darwin pada abad kesembilan belas di mana dalam teorinya dikemukakan bahwa semua perilaku manusia merupakan serangkaian instink yang diperlukan agar bisa bertahan hidup. Mc Dougal sebagai seorang psikolog cenderung percaya bahwa seluruh perilaku sosial manusia didasarkan pada pandangan ini (instinktif).

Namun banyak analis sosial yang tidak percaya bahwa instink merupakan sumber perilaku sosial. Misalnya William James, seorang psikolog percaya bahwa walau instink merupakan hal yang mempengaruhi perilaku sosial, namun penjelasan utama cenderung ke arah kebiasaan – yaitu pola perilaku yang diperoleh melalui pengulangan sepanjang kehidupan seseorang. Hal ini memunculkan “nurture explanation”. Tokoh lain yang juga seorang psikolog sosial, John Dewey mengatakan bahwa perilaku kita tidak sekedar muncul berdasarkan pengalaman masa lampau, tetapi juga secara terus menerus berubah atau diubah oleh lingkungan – “situasi kita” – termasuk tentunya orang lain.

Berbagai alternatif yang berkembang dari kedua pendekatan tersebut kemudian memunculkan berbagai  perspektif dalam psikologi sosial – seperangkat asumsi dasar tentang hal paling penting yang bisa dipertimbangkan sebagai sesuatu yang bisa digunakan untuk memahami perilaku sosial. Ada empat perspektif, yaitu : perilaku (behavioral perspectives) , kognitif (cognitive perspectives), stuktural (structural perspectives), dan interaksionis (interactionist perspectives).

Perspektif perilaku dan kognitif  lebih banyak digunakan oleh para psikolog sosial yang berakar pada psikologi. Mereka sering menawarkan  jawaban yang berbeda atas sebuah pertanyaan : “Seberapa besar perhatian yang seharusnya diberikan oleh para psikolog sosial pada kegiatan mental dalam upayanya memahami perilaku sosial?”. Perspektif perilaku menekankan, bahwa untuk dapat lebih memahami perilaku seseorang, seyogianya kita mengabaikan informasi tentang apa yang dipikirkan oleh seseorang. Lebih baik kita memfokuskan pada perilaku seseorang yang dapat diuji oleh pengamatan kita sendiri. Dengan mempertimbangkan proses mental seseorang, kita tidak terbantu memahami perilaku orang tersebut, karena seringkali proses mental tidak reliabel untuk memprediksi perilaku. Misalnya tidak semua orang yang berpikiran negatif tentang sesuatu, akan juga berperilaku negatif. Orang yang bersikap negatif terhadap bangsa A misalnya, belum tentu dia tidak mau melakukan hubungan dengan bangsa A tersebut. Intinya pikiran, perasaan, sikap (proses mental) bukan sesuatu yang bisa menjelaskan perilaku seseorang.

Sebaliknya, perspektif kognitif menekankan pada pandangan bahwa kita tidak bisa memahami perilaku seseorang tanpa mempelajari proses mental mereka. Manusia tidak menanggapi lingkungannya secara otomatis. Perilaku mereka tergantung pada bagaimana mereka berpikir dan mempersepsi lingkungannya. Jadi untuk memperoleh informasi yang bisa dipercaya maka proses mental seseorang merupakan hal utama yang bisa menjelaskan perilaku sosial seseorang.

Perspektif struktural dan interaksionis lebih sering digunakan oleh para psikolog sosial yang berasal dari disiplin sosiologi. Pertanyaan yang umumnya diajukan adalah : ” Sejauhmana kegiatan-kegiatan individual membentuk interaksi sosial ?”. Perspektif struktural menekankan bahwa perilaku seseorang dapat dimengerti dengan sangat baik jika diketahui peran sosialnya. Hal ini terjadi karena perilaku seseorang merupakan reaksi terhadap harapan orang-orang lain. Seorang mahasiswa rajin belajar, karena masyarakat mengharapkan agar yang namanya mahasiswa senantiasa rajin belajar. Seorang ayah rajin bekerja mencari nafkah guna menghidupi keluarganya. Mengapa ? Karena masyarakat mengharapkan dia berperilaku seperti itu, jika tidak maka dia tidak pantas disebut sebagai “seorang ayah”. Perspektif interaksionis lebih menekankan bahwa manusia merupakan agen yang aktif dalam menetapkan perilakunya sendiri, dan mereka yang membangun harapan-harapan sosial. Manusia bernegosiasi satu sama lainnya untuk membentuk interaksi dan harapannya. Untuk lebih jelas, di bawah ini diuraikan satu persatu keempat prespektif dalam psikologi sosial.

1.      Perspektif Perilaku (Behavioral Perspective)

Pendekatan ini awalnya diperkenalkan oleh John B. Watson (1941, 1919). Pendekatan ini cukup banyak mendapat perhatian  dalam psikologi di antara tahun 1920-an s/d 1960-an. Ketika Watson memulai penelitiannya, dia menyarankan agar pendekatannya ini tidak sekedar satu alternatif bagi pendekatan instinktif dalam memahami perilaku sosial, tetapi juga merupakan alternatif lain yang memfokuskan pada pikiran, kesadaran, atau pun imajinasi. Watson menolak informasi instinktif semacam itu, yang menurutnya bersifat “mistik”, “mentalistik”, dan “subyektif”. Dalam psikologi obyektif maka fokusnya harus pada sesuatu yang “dapat diamati” (observable), yaitu pada “apa yang dikatakan (sayings) dan apa yang dilakukan (doings)”. Dalam hal ini pandangan Watson berbeda dengan James dan Dewey, karena keduanya percaya bahwa proses mental dan juga perilaku yang teramati berperan dalam menyelaskan perilaku sosial.

Para “behaviorist” memasukan perilaku ke dalam satu unit yang dinamakan “tanggapan” (responses), dan lingkungan  ke dalam unit “rangsangan” (stimuli). Menurut penganut paham perilaku, satu rangsangan dan tanggapan tertentu bisa berasosiasi satu sama lainnya, dan menghasilkan satu bentuk hubungan fungsional. Contohnya, sebuah rangsangan ” seorang teman datang “, lalu memunculkan tanggapan misalnya, “tersen-yum”. Jadi seseorang tersenyum, karena ada teman yang datang kepadanya. Para behavioris tadi percaya bahwa rangsangan dan tanggapan dapat dihubungkan tanpa mengacu pada pertimbangan mental yang ada dalam diri seseorang. Jadi tidak terlalu mengejutkan jika para behaviorisme tersebut dikategorikan sebagai pihak yang menggunakan pendekatan “kotak hitam (black-box)” . Rangsangan masuk ke sebuah kotak (box) dan menghasilkan tanggapan. Mekanisme di dalam kotak hitam  tadi – srtuktur internal atau proses mental yang mengolah rangsangan dan tanggapan – karena tidak dapat dilihat secara langsung (not directly observable), bukanlah bidang kajian para behavioris tradisional.

Kemudian, B.F. Skinner (1953,1957,1974) membantu mengubah fokus behaviorisme melalui percobaan yang dinamakan “operant behavior” dan “reinforcement“. Yang dimaksud dengan “operant condition” adalah setiap perilaku yang beroperasi dalam suatu lingkungan dengan cara tertentu, lalu memunculkan akibat atau perubahan dalam lingkungan tersebut. Misalnya, jika kita tersenyum kepada orang lain yang kita hadapi, lalu secara umum, akan menghasilkan senyuman yang datangnya dari orang lain tersebut. Dalam kasus ini, tersenyum kepada orang lain tersebut merupakan “operant behavior“. Yang dimaksud dengan “reinforcement” adalah proses di mana akibat atau perubahan yang terjadi dalam lingkungan memperkuat perilaku tertentu di masa datang . Misalnya, jika kapan saja kita selalu tersenyum kepada orang asing (yang belum kita kenal sebelumnya), dan mereka tersenyum kembali kepada kita, maka muncul kemungkinan bahwa jika di kemudian hari kita bertemu orang asing maka kita akan tersenyum. Perlu diketahui, reinforcement atau penguat, bisa bersifat positif dan negatif. Contoh di atas merupakan penguat positif. Contoh penguat negatif, misalnya beberapa kali pada saat kita bertemu dengan orang asing lalu kita tersenyum dan orang asing tersebut diam saja atau bahkan menunjukan rasa tidak suka, maka dikemudian hari jika kita bertemu orang asing kembali, kita cenderung tidak tersenyum (diam saja).

Dalam pendekatan perilaku terdapat teori-teori yang mencoba menjelaskan secara lebih mendalam mengapa fenomena sosial yang diutarakan dalam pendekatan perilaku bisa terjadi. Beberapa teori antara lain adalah Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory) dan Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory).

a.      Teori Pembelajaran Sosial.

Di tahun 1941, dua orang psikolog – Neil Miller dan John Dollard – dalam laporan hasil percobaannya mengatakan bahwa peniruan (imitation) di antara manusia tidak disebabkan oleh unsur instink atau program biologis. Penelitian kedua orang tersebut mengindikasikan bahwa kita  belajar (learn) meniru perilaku orang lain. Artinya peniruan tersebut merupakan hasil dari satu proses belajar, bukan bisa begitu saja karena instink. Proses belajar tersebut oleh Miller dan Dollard dinamakan “social learning ” – “pembelajaran sosial”. Perilaku peniruan (imitative behavior) kita terjadi karena kita merasa telah memperoleh imbalan ketika kita meniru perilaku orang lain, dan memperoleh hukuman ketika kita tidak menirunya. Agar seseorang bisa belajar mengikuti aturan baku yang telah ditetapkan oleh masyarakat maka “para individu harus dilatih, dalam berbagai situasi, sehingga mereka merasa nyaman ketika melakukan apa yang orang lain lakukan, dan merasa tidak nyaman ketika tidak melakukannya.”, demikian saran yang dikemukakan oleh Miller dan Dollard.

Dalam penelitiannya, Miller dan Dollard menunjukan bahwa anak-anak dapat belajar meniru atau tidak meniru seseorang dalam upaya memperoleh imbalan berupa permen. Dalam percobaannya tersebut, juga dapat diketahui bahwa anak-anak dapat membedakan orang-orang yang akan ditirunya. Misalnya jika orang tersebut laki-laki maka akan ditirunya, jika perempuan tidak. Lebih jauh lagi, sekali perilaku peniruan terpelajari (learned), hasil belajar ini kadang berlaku umum untuk rangsangan yang sama. Misalnya, anak-anak cenderung lebih suka meniru orang-orang yang mirip dengan orang yang sebelumnya memberikan imbalan. Jadi, kita mempelajari banyak perilaku “baru” melalui pengulangan perilaku orang lain yang kita lihat.  Kita contoh perilaku orang-orang lain tertentu, karena  kita mendapatkan imbalan atas peniruan tersebut dari orang-orang lain tertentu tadi dan juga dari mereka yang mirip dengan orang-orang lain tertentu tadi, di masa lampau.

Dua puluh tahun berikutnya, Albert Bandura dan Richard Walters (1959, 1963), mengusulkan satu perbaikan atas gagasan Miller dan Dollard tentang belajar melalui peniruan. Bandura dan Walters menyarankan bahwa kita belajar banyak perilaku melalui peniruan, bahkan tanpa adanya penguat (reinforcement) sekalipun yang kita terima. Kita bisa meniru beberapa perilaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku model, dan akibat yang ditimbulkannya atas model tersebut. Proses belajar semacam ini disebut “observational learning” – pembelajaran melalui pengamatan. Contohnya, percobaan Bandura dan Walters mengindikasikan bahwa ternyata anak-anak bisa mempunyai perilaku agresif hanya dengan mengamati perilaku agresif sesosok model, misalnya melalui film atau bahkan film karton.

Bandura (1971), kemudian menyarankan agar teori pembelajaran sosial seyogianya diperbaiki lebih jauh lagi. Dia mengatakan bahwa teori pembelajaran sosial yang benar-benar melulu menggunakan pendekatan perilaku dan lalu mengabaikan pertimbangan proses mental, perlu dipikirkan ulang. Menurut versi Bandura, maka  teori pembelajaran sosial membahas tentang (1) bagaimana perilaku kita dipengaruhi oleh lingkungan melalui penguat (reinforcement) dan observational learning, (2) cara pandang dan cara pikir yang kita miliki terhadap informasi, (3) begitu pula sebaliknya, bagaimana perilaku kita mempengaruhi lingkungan kita dan menciptakan penguat (reinforcement) dan observational opportunity – kemungkinan bisa diamati oleh orang lain.

b.      Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory)

Tokoh-tokoh yang mengembangkan teori pertukaran sosial antara lain adalah psikolog John Thibaut dan Harlod Kelley (1959), sosiolog George Homans (1961), Richard Emerson (1962), dan Peter Blau (1964). Berdasarkan teori ini, kita masuk ke dalam hubungan pertukaran dengan orang lain karena dari padanya kita memperoleh imbalan. Dengan kata lain hubungan pertukaran dengan orang lain akan menghasilkan suatu imbalan bagi kita. Seperti halnya teori pembelajaran sosial,  teori pertukaran sosial pun melihat antara perilaku dengan lingkungan terdapat hubungan yang saling mempengaruhi (reciprocal). Karena lingkungan kita umumnya terdiri atas orang-orang lain, maka kita dan orang-orang lain tersebut dipandang mempunyai perilaku yang saling mempengaruhi Dalam hubungan tersebut terdapat unsur imbalan (reward), pengorbanan (cost) dan keuntungan (profit). Imbalan merupakan segala hal yang diperloleh melalui adanya  pengorbanan, pengorbanan merupakan semua hal yang dihindarkan, dan keuntungan adalah imbalan dikurangi oleh pengorbanan. Jadi perilaku sosial terdiri atas pertukaran paling sedikit antar dua orang berdasarkan perhitungan untung-rugi. Misalnya, pola-pola perilaku  di tempat kerja, percintaan, perkawinan, persahabatan – hanya akan langgeng manakala kalau semua pihak yang terlibat merasa teruntungkan. Jadi perilaku seseorang dimunculkan karena berdasarkan perhitungannya, akan menguntungkan bagi dirinya, demikian pula sebaliknya jika merugikan maka perilaku tersebut tidak ditampilkan.

Berdasarkan keyakinan tersebut Homans dalam bukunya “Elementary Forms of Social Behavior, 1974 mengeluarkan beberapa proposisi dan salah satunya berbunyi :”Semua tindakan yang dilakukan oleh seseorang, makin sering satu bentuk tindakan tertentu memperoleh imbalan, makin cenderung orang tersebut menampilkan tindakan tertentu tadi “. Proposisi ini secara eksplisit menjelaskan bahwa satu tindakan tertentu akan berulang dilakukan jika ada imbalannya. Proposisi lain yang juga memperkuat proposisi tersebut berbunyi : “Makin tinggi nilai hasil suatu perbuatan bagi seseorang, makin besar pula kemungkinan perbuatan tersebut diulanginya kembali”. Bagi Homans, prinsip dasar pertukaran sosial adalah “distributive justice” – aturan yang mengatakan bahwa sebuah imbalan harus sebanding dengan investasi. Proposisi yang terkenal sehubungan dengan prinsip tersebut berbunyi ” seseorang dalam hubungan pertukaran dengan orang lain akan mengharapkan imbalan yang diterima oleh setiap pihak sebanding dengan pengorbanan yang telah dikeluarkannya – makin tingghi pengorbanan, makin tinggi imbalannya – dan keuntungan yang diterima oleh setiap pihak harus sebanding dengan investasinya – makin tinggi investasi, makin tinggi keuntungan”.

Inti dari teori pembelajaran sosial dan pertukaran sosial  adalah perilaku sosial seseorang hanya bisa dijelaskan oleh sesuatu yang bisa diamati, bukan oleh proses mentalistik (black-box). Semua teori yang dipengaruhi oleh perspektif ini menekankan hubungan langsung antara perilaku yang teramati dengan lingkungan.

 2.      Perspektif Kognitif (The Cognitive Perspective)

Kita telah memberikan indikasi bahwa kebiasaan (habit) merupakan penjelasan alternatif yang bisa digunakan untuk memahami perilaku sosial seseorang di samping instink (instinct). Namun beberapa analis sosial percaya bahwa kalau hanya kedua hal tersebut (kebiasaan dan instink) yang dijadikan dasar, maka dipandang terlampau ekstrem – karena mengabaikan kegiatan mental manusia.

Seorang psikolog James Baldwin (1897) menyatakan bahwa paling sedikit ada dua bentuk peniruan, satu didasarkan pada kebiasaan kita dan yang lainnya didasarkan pada wawasan kita atas diri kita sendiri dan atas orang lain yang perilakunya kita tiru. Walau dengan konsep yang berbeda seorang sosiolog Charles Cooley (1902) sepaham dengan pandangan Baldwin. Keduanya memfokuskan perhatian mereka kepada perilaku sosial yang melibatkan proses mental atau kognitif .

Kemudian banyak para psikolog sosial menggunakan konsep sikap (attitude) untuk memahami proses mental atau kognitif tadi. Dua orang sosiolog W.I. Thomas dan Florian Znaniecki mendefinisikan psikologi sosial sebagai studi tentang sikap, yang diartikannya sebagai proses mental individu yang menentukan tanggapan aktual dan potensial individu dalam dunia sosial”. Sikap merupakan predisposisi perilaku. Beberapa teori yang melandasi perpektif ini antara lain adalah  Teori Medan (Field Theory), Teori Atribusi dan Konsistensi Sikap (Concistency Attitude and Attribution Theory), dan Teori Kognisi Kontemporer.

a.      Teori Medan (Field Theory)

Seorang psikolog, Kurt Lewin (1935,1936) mengkaji perilaku sosial melalui pendekatan konsep “medan”/”field” atau “ruang kehidupan” – life space. Untuk memahami konsep ini perlu dipahami bahwa secara tradisional para psikolog memfokuskan pada keyakinan bahwa karakter individual (instink dan kebiasaan), bebas – lepas dari pengaruh situasi di mana individu melakukan aktivitas. Namun Lewin kurang sepaham dengan keyakinan tersebut. Menurutnya penjelasan tentang perilaku yang tidak memperhitungkan faktor situasi, tidaklah lengkap. Dia merasa bahwa semua peristiwa psikologis apakah itu berupa tindakan, pikiran, impian, harapan, atau apapun, kesemuanya itu merupakan fungsi dari “ruang kehidupan”- individu dan lingkungan dipandang sebagai sebuah konstelasi yang saling tergantung satu sama lainnya. Artinya “ruang kehidupan” merupakan juga merupakan determinan bagi tindakan, impian, harapan, pikiran seseorang. Lewin memaknakan “ruang kehidupan” sebagai seluruh peristiwa (masa lampau, sekarang, masa datang) yang berpengaruh pada perilaku dalam satu situasi tertentu.

Bagi Lewin, pemahaman atas perilaku seseorang senantiasa harus dikaitkan dengan konteks – lingkungan di mana perilaku tertentu ditampilkan. Intinya, teori medan berupaya menguraikan bagaimana situasi yang ada (field) di sekeliling individu bepengaruh pada perilakunya. Sesungguhnya teori medan mirip dengan konsep “gestalt” dalam psikologi yang memandang bahwa eksistensi bagian-bagian atau unsur-unsur tidak bisa terlepas satu sama lainnya. Misalnya,  kalau kita melihat bangunan, kita tidak melihat batu bata, semen, kusen, kaca, secara satu persatu. Demikian pula kalau kita mempelajari perilaku individu, kita tidak bisa melihat individu itu sendiri, lepas dari konteks di mana individu tersebut berada.

b.      Teori Atribusi dan Konsistensi Sikap ( Attitude Consistency and Attribution Theory)

Fritz Heider (1946, 1958), seorang psikolog bangsa Jerman mengatakan bahwa kita cenderung mengorganisasikan sikap kita, sehingga tidak menimbulkan konflik. Contohnya, jika kita setuju pada hak seseorang untuk melakukan aborsi, seperti juga orang-orang lain, maka sikap kita tersebut konsisten atau seimbang (balance). Namun jika kita setuju aborsi tetapi ternyata teman-teman dekat kita dan juga orang-orang di sekeliling kita tidak setuju pada aborsi maka kita dalam kondisi tidak seimbang (imbalance). Akibatnya kita merasa tertekan (stress), kurang nyaman, dan kemudian kita akan mencoba mengubah sikap kita, menyesuaikan dengan orang-orang di sekitar kita, misalnya dengan bersikap bahwa kita sekarang tidak sepenuhnya setuju pada aborsi. Melalui pengubahan sikap tersebut, kita menjadi lebih nyaman. Intinya sikap kita senantiasa kita sesuaikan dengan sikap orang lain agar terjadi keseimbangan karena dalam situasi itu, kita menjadi lebih nyaman.

Heider juga menyatakan bahwa kita mengorganisir pikiran-pikiran kita dalam kerangka “sebab dan akibat”. Agar supaya bisa meneruskan kegiatan kita dan mencocokannya  dengan orang-orang di sekitar kita, kita mentafsirkan informasi untuk memutuskan penyebab perilaku kita dan orang lain. Heider memperkenalkan konsep “causal attribution” – proses penjelasan tentang penyebab suatu perilaku. Mengapa Tono pindah ke kota lain ?, Mengapa Ari keluar dari sekolah ?. Kita bisa menjelaskan perilaku sosial dari Tono dan Ari jika kita mengetahui penyebabnya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bedakan dua jenis penyebab, yaitu internal dan eksternal. Penyebab internal (internal causality) merupakan atribut yang melekat pada sifat dan kualitas pribadi atau personal, dan penyebab external (external causality) terdapat dalam lingkungan atau situasi.

c.       Teori Kognitif Kontemporer

Dalam tahun 1980-an, konsep kognisi, sebagian besarnya mewarnai konsep sikap. Istilah “kognisi” digunakan untuk menunjukan adanya proses mental dalam diri seseorang sebelum melakukan tindakan. Teori kognisi kontemporer memandang manusia sebagai agen yang secara aktif menerima, menggunakan, memanipulasi, dan mengalihkan informasi. Kita secara aktif berpikir, membuat rencana, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Manusia memproses informasi dengan cara tertentu melalui struktur kognitif yang diberi istilah “schema” (Markus dan Zajonc, 1985 ; Morgan dan Schwalbe, 1990; Fiske and Taylor, 1991). Struktur tersebut berperan sebagai kerangka yang dapat menginterpretasikan  pengalaman-pengalaman sosial yang kita miliki. Jadi struktur kognisi bisa membantu kita mencapai keterpaduan dengan lingkungan, dan membantu kita untuk menyusun realitas sosial. Sistem ingatan yang kita miliki diasumsikan terdiri atas struktur pengetahuan yang tak terhitung jumlahnya.

Intinya, teori-teori kognitif memusatkan pada bagaiamana kita memproses informasi yang datangnya dari lingkungan ke dalam struktur mental kita Teori-teori kognitif percaya bahwa kita tidak bisa memahami perilaku sosial tanpa memperoleh informasi tentang proses mental yang bisa dipercaya, karena informasi tentang hal yang obyektif, lingkungan eksternal belum mencukupi.

3.      Perspektif Struktural

Telah kita catat bahwa telah terjadi perdebatan di antara para ilmuwan sosial dalam hal menjelaskan perilaku sosial seseorang. Untuk menjelaskan perilaku sosial seseorang dapat dikaji sebagai  sesuatu proses yang (1) instinktif,  (2) karena kebiasaan, dan (3) juga yang bersumber dari proses mental. Mereka semua tertarik, dan dengan cara sebaik mungkin lalu menguraikan hubungan antara masyarakat dengan individu. William James dan John Dewey menekankan pada penjelasan kebiasaan individual, tetapi mereka juga mencatat bahwa kebiasaan individu mencerminkan kebiasaan kelompok – yaitu adat-istiadat masyarakat – atau strutur sosial . Para sosiolog yakin bahwa struktur sosial terdiri atas jalinan interaksi antar manusia dengan cara yang relatif stabil. Kita mewarisi struktur sosial dalam satu pola perilaku yang diturunkan oleh satu generasi ke generasi berikutnya, melalui proses sosialisasi. Disebabkan oleh struktur sosial, kita mengalami kehidupan sosial yang telah terpolakan. James menguraikan pentingnya dampak struktur sosial atas “diri” (self) – perasaan kita terhadap diri kita sendiri. Masyarakat mempengaruhi diri – self.

Sosiolog lain Robert Park dari Universitas Chicago memandang bahwa masyarakat mengorganisasikan, mengintegrasikan, dan mengarahkan kekuatan-kekuatan individu- individu  ke dalam berbagai macam peran (roles). Melalui peran inilah kita menjadi tahu siapa diri kita. Kita adalah seorang anak, orang tua, guru, mahasiswa, laki-laki, perempuan, Islam, Kristen. Konsep kita tentang diri kita tergantung pada peran yang kita lakukan dalam masyarakat. Beberapa teori yang melandasi persektif strukturan adalah Teori Peran (Role Theory), Teori Pernyataan – Harapan (Expectation-States Theory), dan Posmodernisme (Postmodernism)

a.      Teori Peran (Role Theory)

Walau Park menjelaskan dampak masyarakat atas perilaku kita dalam hubungannya dengan peran, namun jauh sebelumnya Robert Linton (1936), seorang antropolog, telah mengembangkan  Teori Peran. Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurut teori ini, seseorang yang mempunyai peran tertentu misalnya sebagai dokter, mahasiswa, orang tua, wanita, dan lain sebagainya, diharapkan agar seseorang tadi berperilaku sesuai dengan peran tersebut. Mengapa seseorang mengobati orang lain, karena dia adalah seorang dokter. Jadi karena statusnya adalah dokter maka dia harus mengobati pasien yang datang kepadanya. Perilaku ditentukan oleh peran sosial

Kemudian, sosiolog yang bernama Glen Elder (1975) membantu memperluas penggunaan teori peran. Pendekatannya yang dinamakan “life-course” memaknakan bahwa setiap masyarakat mempunyai harapan kepada setiap anggotanya untuk mempunyai perilaku tertentu sesuai dengan kategori-kategori usia yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Contohnya, sebagian besar warga Amerika Serikat akan menjadi murid sekolah ketika berusia empat atau lima tahun, menjadi peserta pemilu pada usia delapan belas tahun, bekerja pada usia tujuh belah tahun, mempunyai istri/suami pada usia dua puluh tujuh, pensiun pada usia enam puluh tahun. Di Indonesia berbeda. Usia sekolah dimulai sejak tujuh tahun, punya pasangan hidup sudah bisa usia tujuh belas tahun, pensiun usia lima puluh lima tahun. Urutan tadi dinamakan “tahapan usia” (age grading). Dalam masyarakat kontemporer kehidupan kita dibagi ke dalam masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, dan masa tua, di mana setiap masa mempunyai bermacam-macam pembagian lagi.

b. Teori Pernyataan Harapan (Expectation-States Theory)

Teori ini diperkenalkan oleh Joseph Berger dan rekan-rekannya di Universitas Stanford pada tahun 1972. Jika pada teori peran lebih mengkaji pada skala makro, yaitu peran yang ditetapkan oleh masyarakat, maka pada teori ini berfokus pada kelompok kerja yang lebih kecil lagi. Menurut teori ini, anggota-anggota kelompok membentuk harapan-harapan atas dirinya sendiri dan diri anggota lain, sesuai dengan tugas-tugas yang relevan dengan kemampuan mereka, dan harapan-harapan tersebut mempengaruhi gaya interaksi di antara anggota-anggota kelompok tadi. Sudah tentu atribut yang paling berpengaruh terhadap munculnya kinerja yang diharapkan adalah yang berkaitan dengan ketrampilan kerjanya. Anggota-anggota kelompok dituntut memiliki motivasi dan ketrampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas-tugas kelompok yang diharapkan bisa ditampilkan sebaik mungkin.

Bagaimanapun juga, kita sering kekurangan informasi tentang kemampuan yang berkaitan dengan tugas yang relevan, dan bahkan ketika kita memiliki informasi, yang muncul adalah bahwa kita juga harus mendasarkan harapan kita pada atribut pribadi dan kelompok seperti : jenis kelamin, ras, dan usia. Dalam beberapa masyarakat tertentu, beberapa atribut pribadi dinilai lebih penting daripada atribut lainnya. Untuk menjadi pemimpin, jenis kelamin kadang lebih diprioritaskan ketimbang kemampuan. Di Indonesia, untuk menjadi presiden, ras merupakan syarat pertama yang harus dipenuhi. Berger menyebut gejala tersebut sebagai “difusi karakteristik status”; karakteristik status mempengaruhi harapan kelompok kerja. Status laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan dalam soal menjadi pemimpin, warganegara pribumi asli lebih diberi tempat menduduki jabatan presiden. Difusi karakteristik status tersebut  ( jenis kelamin, ras, usia, dan lainnya) dengan demikian, mempunyai pengaruh yang kuat terhadap interaksi sosial.

c. Posmodernisme (Postmodernism)

Baik teori peran maupun teori pernyataan-harapan, keduanya menjelaskan perilaku sosial dalam kaitannya dengan harapan peran dalam masyarakat kontemporer. Beberapa psikolog lainnya justru melangkah lebih jauh lagi. Pada dasarnya teori posmodernisme atau dikenal dengan singkatan “POSMO” merupakan reaksi keras terhadap dunia modern. Teori Posmodernisme, contohnya, menyatakan bahwa dalam masyarakat modern, secara gradual seseorang akan kehilangan individualitas-nya – kemandiriannya, konsep diri, atau jati diri. (Denzin, 1986; Murphy, 1989; Dowd, 1991; Gergen, 1991) . Dalam pandangan teori ini upaya kita untuk memenuhi peran yang dirancangkan untuk kita oleh masyarakat, menyebabkan individualitas kita digantikan oleh kumpulan citra diri yang kita pakai sementara dan kemudian kita campakkan..

Berdasarkan pandangan posmodernisme, erosi gradual individualitas muncul bersamaan dengan terbitnya kapitalisme dan rasionalitas. Faktor-faktor ini mereduksi pentingnya hubungan pribadi dan menekankan aspek nonpersonal. Kapitalisme atau modernisme, menurut teori ini, menyebabkan manusia dipandang sebagai barang yang bisa diperdagangkan – nilainya (harganya) ditentukan oleh seberapa besar yang bisa dihasilkannya.

Setelah Perang Dunia II, manusia makin dipandang sebagai konsumen dan juga sebagai produsen. Industri periklanan dan masmedia menciptakan citra komersial yang mampu mengurangi keanekaragaman individualitas. Kepribadian menjadi gaya hidup. Manusia lalu dinilai bukan oleh kepribadiannya tetapi oleh seberapa besar kemampuannya mencontoh gaya hidup. Apa yang kita pertimbangkan sebagai “ pilihan kita sendiri” dalam hal musik, makanan, dan lain-lainnya, sesungguhnya merupakan seperangkat kegemaran yang diperoleh dari kebudayaan yang cocok dengan tempat kita dalam struktur ekonomi masyarakat kita. Misalnya, kesukaan remaja Indonesia  terhadap musik “rap” tidak lain adalah disebabkan karena setiap saat telinga mereka dijejali oleh musik tersebut melalui radio, televisi, film, CD, dan lain sebagainya. Gemar musik “rap” menjadi gaya hidup remaja. Lalu kalau mereka tidak menyukai musik “rap”, dia bukan remaja.  Perilaku seseorang ditentukan oleh gaya hidup orang-orang lain yang ada di sekelilingnya , bukan oleh dirinya sendiri. Kepribadiannya hilang individualitasnya lenyap. Itulah manusia modern, demikian menurut pandangan penganut “posmo”.

Intinya, teori peran, pernyataan-harapan, dan posmodernisme memberikan ilustrasi perspektif struktural  dalam hal bagaimana harapan-harapan masyarakat mempengaruhi perilaku sosial individu. Sesuai dengan perspektif ini, struktur sosial – pola interaksi yang sedang terjadi dalam masyarakat – sebagian besarnya pembentuk dan sekaligus juga penghambat perilaku individual. Dalam pandangan ini, individu mempunyai peran yang pasif dalam menentukan perilakunya. Individu bertindak karena ada kekuatan struktur sosial yang menekannya.

4. Perspektif Interaksionis (Interactionist Perspective)

Seorang sosiolog yang bernama George Herbert Mead (1934) yang mengajar psiokologi sosial pada departemen filsafat Universitas Chicago, mengembangkan teori ini. Mead percaya bahwa keanggotaan kita dalam suatu kelompok sosial menghasilkan perilaku bersama yang kita kenal dengan nama budaya. Dalam waktu yang bersamaan, dia juga mengakui bahwa individu-individu yang memegang posisi berbeda dalam suatu kelompok, mempunyai peran yang berbeda pula, sehingga memunculkan perilaku yang juga berbeda. Misalnya, perilaku pemimpin berbeda dengan pengikutnya. Dalam kasus ini, Mead tampak juga seorang strukturis. Namun dia juga menentang pandangan bahwa perilaku kita melulu dipengaruhi oleh lingkungan sosial atau struktur sosial. Sebaliknya Mead percaya bahwa kita sebagai bagian dari lingkungan sosial tersebut juga telah membantu menciptakan lingkungan tersebut. Lebih jauh lagi, dia memberi catatan bahwa walau kita sadar akan adanya sikap bersama dalam suatu kelompok/masyarakat, namun hal tersebut tidaklah berarti bahwa kita senantiasa berkompromi dengannya.

Mead juga tidak setuju pada pandangan yang mengatakan bahwa untuk bisa memahami perilaku sosial, maka yang harus dikaji adalah hanya aspek eksternal (perilaku yang teramati) saja. Dia menyarankan agar aspek internal (mental) sama pentingnya dengan aspek eksternal untuk dipelajari. Karena dia tertarik pada aspek internal dan eksternal atas dua atau lebih individu yang berinteraksi, maka dia menyebut aliran perilakunya dengan nama “social behaviorism”. Dalam perspektif interaksionis ada beberapa teori yang layak untuk dibahas yaitu Teori Interaksi Simbolis (Symbolic Interaction Theory), dan Teori Identitas (Identity Theory).

a. Teori Interaksi Simbolis (Symbolic Interaction Theory)

Walau Mead menyarankan agar aspek internal juga dikaji untuk bisa memahami perilaku sosial, namun hal tersebut bukanlah merupakan minat khususnya. Justru dia lebih tertarik pada interaksi, di mana hubungan di antara gerak-isyarat (gesture) tertentu dan maknanya, mempengaruhi pikiran pihak-pihak yang sedang berinteraksi. Dalam terminologi Mead, gerak-isyarat yang maknanya diberi bersama oleh semua pihak yang terlibat dalam interaksi adalah merupakan “satu bentuk simbol yang mempunyai arti penting” ( a significant symbol”). Kata-kata dan suara-lainnya, gerakan-gerakan fisik, bahasa tubuh (body langguage), baju, status, kesemuanya merupakan simbol yang bermakna.

Mead tertarik mengkaji interaksi sosial, di mana dua atau lebih individu berpotensi mengeluarkan simbol yang bermakna. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh simbol yang dikeluarkan orang lain, demikian pula perilaku orang lain tersebut. Melalui pemberian isyarat berupa simbol, kita mengutarakan perasaan, pikiran, maksud, dan sebaliknya dengan cara membaca simbol yang ditampilkan orang lain, kita menangkap pikiran, perasaan orang lain tersebut. Teori ini mirip dengan teori pertukaran sosial.

Interaksi di antara beberapa pihak tersebut akan tetap berjalan lancar tanpa gangguan apa pun manakala simbol yang dikeluarkan oleh masing-masing pihak dimaknakan bersama sehingga semua pihak mampu mengartikannya dengan baik. Hal ini mungkin terjadi karena individu-individu yang terlibat dalam interaksi tersebut berasal dari budaya yang sama, atau sebelumnya telah berhasil memecahkan perbedaan makna di antara mereka. Namun tidak selamanya interaksi berjalan mulus. Ada pihak-pihak tertentu yang menggunakan simbol yang tidak signifikan – simbol yang tidak bermakna bagi pihak lain. Akibatnya orang-orang tersebut harus secara terus menerus mencocokan makna dan merencanakan cara tindakan mereka.

Banyak kualitas perilaku manusia yang belum pasti dan senantiasa berkembang : orang-orang membuat peta, menguji, merencanakan, menunda, dan memperbaiki tindakan-tindakan mereka, dalam upaya menanggapi tindakan-tindakan pihak lain. Sesuai dengan pandangan ini, individu-individu menegosiasikan perilakunya agar cocok dengan perilaku orang lain.

b. Teori Identitas (Identity Theory)

Teori Indentitas dikemukakan oleh Sheldon Stryker (1980). Teori ini memusatkan perhatiannya pada hubungan saling mempengaruhi di antara  individu dengan struktur sosial yang lebih besar lagi (masyarakat). Individu dan masyarakat dipandang sebagai dua sisi dari satu mata uang. Seseorang dibentuk oleh interaksi, namun struktur sosial membentuk interaksi. Dalam hal ini Stryker tampaknya setuju dengan perspektif struktural, khususnya teori peran. Namun dia juga memberi sedikit kritik terhadap teori peran yang menurutnya terlampau tidak peka terhadap kreativitas individu.

Teori Stryker mengkombinasikan konsep peran (dari teori peran) dan konsep diri/self (dari teori interaksi simbolis). Bagi setiap peran yang kita tampilkan dalam berinteraksi dengan orang lain, kita mempunyai definisi tentang diri kita sendiri yang berbeda dengan diri orang lain, yang oleh  Stryker dinamakan “identitas”. Jika kita memiliki banyak peran, maka kita memiliki banyak identitas. Perilaku kita dalam suatu bentuk interaksi, dipengaruhi oleh harapan peran dan identitas diri kita, begitu juga perilaku pihak yang berinteraksi dengan kita.

Intinya, teori interaksi simbolis dan identitas mendudukan individu sebagai pihak yang aktif dalam menetapkan perilakunya dan membangun harapan-harapan sosial. Perspektif iteraksionis tidak menyangkal adanya pengaruh struktur sosial, namun jika hanya struktur sosial saja yang dilihat untuk menjelaskan perilaku sosial, maka hal tersebut kurang memadai.

RANGKUMAN

Telah kita bahas empat perspektif dalam psikologi sosial. Yang dimaksud dengan perspektif adalah asumsi-asumsi dasar yang paling banyak sumbangannya kepada pendekatan psikologi sosial. Perspektif perilaku menyatakan bahwa perilaku sosial kita paling baik dijelaskan melalui perilaku yang secara langsung dapat diamati dan lingkungan yang menyebabkan perilaku kita berubah. Perspektif kognitif menjelaskan perilaku sosial kita dengan cara memusatkan pada bagaimana kita menyusun mental (pikiran, perasaan) dan memproses informasi yang datangnya dari lingkungan . Kedua perspektif tersebut banyak dikemukakan oleh para psikolog sosial yang berlatar belakang psikologi.

Di samping kedua perspektif di atas, ada dua perspektif lain yang sebagian besarnya diutarakan oleh para psikolog sosial yang berlatas belakang sosiologi. Perspektif struktural memusatkan perhatian pada proses sosialisasi, yaitu proses di mana perilaku kita dibentuk oleh peran yang beraneka ragam dan selalu berubah, yang dirancang oleh masyarakat kita. Perspektif interaksionis memusatkan perhatiannya pada proses interaksi yang mempengaruhi perilaku sosial kita. Perbedaan utama di antara kedua perspektif terakhir tadi adalah pada pihak mana yang berpengaruh paling besar terhadap pembentukan perilaku. Kaum strukturalis cenderung meletakan struktur sosial (makro) sebagai determinan perilaku sosial individu, sedangkan kaum interaksionis lebih memandang individu (mikro) merupakan agen yang aktif dalam membentuk perilakunya sendiri.

Karena banyaknya teori yang dikemukakan untuk menjelaskan perilaku sosial maka seringkali muncul pertanyaan : “Teori mana yang paling benar ?” atau “teori mana yang terbaik?” . Hampir seluruh psikolog sosial akan menjawab bahwa tidak ada teori yang salah atau yang paling baik, atau paling jelek. Setiap teori mempunyai keterbatasan dalam aplikasinya. Misalnya dalam mempelajari agresi (salah satu bentuk perilaku sosial), para behavioris bisa memusatkan pada pengalaman belajar yang mendorong terjadinya perilaku agresif – pada bagaimana orang tua, guru, dan pihak-pihak lain yang memberi perlakuan positif pada perilaku agresif. Bagi yang tertarik pada perspektif kognitif maka obyek kajiannya adalah pada bagaimana seseorang mempersepsi, interpretasi, dan berpikir tentang perilaku agresif. Seorang psikolog sosial yang ingin menggunakan teori medan akan mengkaji perilaku agresif dengan cara melihat hubungan antara karakteristik individu dengan situasi di mana perilaku agresif tersebut ditampilkan. Para teoritisi pertukaran sosial  bisa memusatkan pada adanya imbalan sosial terhadap individu yang menampilkan perilaku agresif. Jika memakai kacamata teori peran, perilaku agresif atau tidak agresif ditampilkan oleh seseorang karena harapan-harapan sosial yang melekat pada posisi sosialnya harus dipenuhi.

Demikianlah, setiap teori bisa digunakan untuk menjadi pendekatan yang efektif tidak untuk semua aspek perilaku. Teori peran lebih efektif untuk menjelaskan perilaku X dibanding dengan teori yang berperspektif kognitif, misalnya.

 

Buku Acuan :

 

Theories of Social Psychology – Marvin E. Shaw / Philip R. Costanzo, Second Edition, 1985, McGraw-Hill, Inc.

Thinking Sociologically, Sheldon Goldenberg,  1987, Wadsworth, Inc.

Social Psychology, James A. Wiggins, Beverly B. Wiggins, James Vander Zanden, Fifth Edition, 1994, McGraw-Hill, Inc.

Sociology, Concepts and Uses , Jonathan H. Tuner,  1994. McGraw-Hill Inc.

Social Psychology, Kay Deaux, Lawrence S. Wrightsman, Fifth Edition, 1988, Wadsworth, Inc.

Kata Baku

Posted: Juni 14, 2013 in Bahasa Indonesia

terkadang dalam menulis kata-kata, kita hanya asal ketik sesuai dengan pengetahuan kita. gak salah sih, tapi ada baiknya kita menggunakan EYD (ejaan yang disempurnakan) dan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.  Berikut ini ada beberapa kata baku, moga-moga bermanfaat ya?

No.

Tidak Baku

Baku

1

ada pun adapun

2

adan azan

3

akherat akhirat

4

akseptebel akseptabel

5

akte akta

6

aktifitas aktivitas

7

Al Quran Alquran

8

alenia alinea

9

almunium aluminium

10

ambulance ambulans

11

analisa analisis

12

apapun apa pun

13

apotik apotek

14

asesoris aksesoris

15

ashar Asar

16

atlit atlet

17

azaz; azas asas

18

babat (kisah, cerita) babad

19

bagaimanapun bagaimana pun

20

batalyon batalion

21

bea siswa beasiswa

22

beacukai bea cukai

23

berapapun berapa pun

24

bercermin becermin

25

bergadang begadang

26

bipartid bipartit

27

bolpoint bolpoin

28

bonafit bonafide

29

box boks

30

cengkram cengkeram

31

centimeter sentimeter

32

ceritera cerita

33

cidera cedera

34

cinderamata cenderamata

35

contek sontek

36

dari pada daripada

37

dasyat dahsyat

38

derajad derajat

39

devinitif definitif

40

di sana-sini di sana sini

41

dikir; dzikir zikir

42

dimanapun di mana pun

43

dipersilahkan dipersilakan

44

dirubah diubah

45

draft draf

46

duka cita dukacita

47

dzuhur; duhur Zuhur

48

efektifitas efektivitas

49

eforia euforia

50

eksport ekspor

51

ekstrim ekstrem

52

elit elite

53

factual faktual

54

faham paham

55

feminim feminin

56

fikir pikir

57

file fail

58

filem film

59

formatir formatur

60

fotocopy; fotokopy fotokopi

61

fotosintesa fotosintesis

62

frase frasa

63

frekwensi frekuensi

64

frustasi frustrasi

65

godog godok

66

hadang adang

67

hadist; hadizt hadis

 

No.

Tidak Baku

Baku

68

haemoglobin hemoglobin

69

handal andal

70

hapal hafal

71

hektar hektare

72

helem helm

73

hidrolis; hidrolik hidraulis

74

higenis higienis

75

himbau imbau

76

hipokret hipokrit

77

hipotesa hipotesis

78

hipotik hipotek

79

hirarki hierarki

80

hisap isap

81

hizab hisab

82

hutang utang

83

idiologi ideologi

84

Idul Adha Iduladha

85

Idul Fitri Idulfitri

86

ijasah ijazah

87

ijin izin

88

ijtima’ ijtimak

89

import impor

90

intelejen intelijen

91

inten intens

92

interest interes

93

isa; isha Isya

94

isteri istri

95

isti’mal istikmal

96

jadual jadwal

97

jagad jagat

98

jamaah jemaah

99

jasirah jazirah

100

jazad jasad

101

jenasah jenazah

102

jiarah ziarah

103

kaca mata kacamata

104

kaos kaus

105

kapanpun kapan pun

106

karir karier

107

kasiat khasiat

108

kawatir khawatir

109

ke mari kemari

110

kemaren kemarin

111

kendati pun kendatipun

112

ketrampilan keterampilan

113

khabar kabar

114

kharisma karisma

115

khasanah khazanah

116

khitmat; hidmat; khidmad khidmat

117

khotib khatib

118

khusuk khusyuk

119

kifarat kafarat

120

kobis kubis

121

komoditi komoditas

122

komplek kompleks

123

komplit komplet

124

kondite konduite

125

konggres kongres

126

konkrit konkret

127

kontinyu, kontinue kontinu

128

kopor koper

129

kosekwen konsekuen

130

kota praja kotapraja

131

kotbah khotbah

132

kranjang keranjang

133

kraton keraton

134

kroyok keroyok

No.

Tidak Baku

Baku

135

kuisioner kuesioner

136

kwalitas kualitas

137

kwintal kuintal

138

kwitansi kuitansi

139

lalu-lintas lalu lintas

140

legalisir legalisasi

141

lembab lembap

142

liang lahat liang lahad

143

lobang lubang

144

maghrib Magrib

145

Maha Kasih Mahakasih

146

Maha Kuasa Mahakuasa

147

Maha Mulia Mahamulia

148

Mahaesa Maha Esa

149

mandeg mandek

150

melalang buana melanglang buana

151

membom mengebom

152

meminimalisir meminimalisasi; meminimalkan

153

mempengaruhi memengaruhi

154

mempercayai memercayai

155

memperhatikan memerhatikan

156

memperiksa memeriksa

157

memperintah memerintah

158

memperkosa memerkosa

159

memperlukan memerlukan

160

menejemen manajemen

161

menejer; manager manajer

162

mengenyampingkan mengesampingkan

163

menghimpit mengimpit

164

mensukseskan menyukseskan

165

mentri menteri

166

merjer merger

167

merk merek

168

merubah mengubah

169

meski pun meskipun

170

metoda metode

171

milyar miliar

172

moderen modern

173

motodelogi metodologi

174

multi media multimedia

175

munkar mungkar

176

mushola musala

177

musium museum

178

naas nahas

179

nafas napas

180

nahkoda nakhoda

181

nampak tampak

182

napsu nafsu

183

nara sumber narasumber

184

nasehat nasihat

185

nekad nekat

186

non aktif nonaktif

187

Nopember November

188

obyek objek

189

olah raga olahraga

190

onta (binatang) unta

191

oplet (jenis kendaraan) opelet

192

orisinil orisinal

193

otentik autentik

194

otodidak autodidak

195

otopsi autopsi

196

pas foto pasfoto

197

pasca panen pascapanen

198

Pebruari Februari

199

pembaharuan pembaruan

200

perangko prangko

201

perbulan per bulan

 

No.

Tidak Baku

Baku

202

perempat final perempatfinal

203

phosphor; fospor fosfor

204

pra sejarah prasejarah

205

presidentil presidensial

206

pro aktif proaktif

207

propinsi provinsi

208

prosentase persentase

209

purna tugas purnatugas

210

putera putra

211

puteri putri

212

quorum kuorum

213

rapih rapi

214

real (mata uang arab) rial

215

realisir realisasi

216

resiko risiko

217

respon respons

218

risih risi

219

rohaniawan rohaniwan

220

sair syair

221

saksopon (alat musik) saksofon

222

sample sampel

223

sejarahwan sejarawan

224

sekali pun sekalipun

225

sekedar sekadar

226

seksama saksama

227

semi final semifinal

228

sepion spion

229

setasiun stasiun

230

seterika setrika

231

seterum setrum

232

siapapun siapa pun

233

silaturahim silaturahmi

234

sintesa sintesis

235

sipilis sifilis

236

sistim sistem

237

standarisasi standardisasi

238

stimulans stimulan

239

stop setop

240

stress stres

241

study studi

242

subyek subjek

243

supir sopir

244

survey survei

245

sutera sutra

246

Syaban Syakban

247

syaraf saraf

248

syurga; sorga surga

249

tahayul takhayul

250

tarip tarif

251

taubat tobat

252

tausiyah; tausyiah taushiyah

253

tehnik teknik

254

tekat tekad

255

telor telur

256

tentram tenteram

257

teoritis teoretis

258

terimakasih terima kasih

259

terlanjur telanjur

260

terlantar telantar

261

terlentang telentang

262

terpercaya tepercaya

263

tlaten telaten

264

tolerir toleransi

265

tour tur

266

trampil terampil

267

tropi trofi

268

ujicoba uji coba

 

No.

Tidak Baku

Baku

269

varitas varietas

270

verivikasi verifikasi

271

wudhu wudu

272

zak sak

273

zinah zina

 

Awas Ngantuk…

Posted: Juni 13, 2013 in Sehari-hari

Fakta-fakta akibat ngantuk

Tahukah Anda? Beberapa kecelakan yang terjadi di berbagai penjuru dunia ada yang diakibatkan oleh ngantuk. Sopir yang ngantuk telahmengakibatkan kecelakaan. Ada luka-luka, ada yang stress, bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Berapa puluh juta kerugian yang ditanggung perusahaan, ataupun pribadi yang diakibatkan oleh hal yang biasa dianggap sepele ini. Maukah Anda atau saudara Anda mengalami hal seperti itu? Tentu tidakmau, bukan. Beberapa pelajar atau mahasiswa mengeluhkan tidak mampu

menghasilkan target yang dinginkan dalam belajar. Itu juga diakibatkankarena pada saat mengikuti pelajaran atau kuliah sering diserangngantuk. Ada juga yang karena pada saat mempelajari lagi materi di rumah atau dikosan, juga sering didatangi ngantuk. Sehingga belajar menjadi tidak optimal. Tugas sering tidak tuntas dikerjakan. Lalu mau sampai kapan hal itu menghantuinya? Dalam kegiatan sehari-hari, pernahkah Anda ngantuk pada saat meeting. Atau barangkali pada saat ikut seminar, pelatihan, pengajian, menunggu kawan, ngobrol, bahkan saat makan sekalipun? Kapan dan di mana orang sering gantuKapan ngantuk Pernahkah Anda mengalami ngantuk berat? Pernahkah ngantuk

menghalangi aktifitas Anda? Ada peribahasa “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”. Maksud loe? Maksud saya, Ayo kita kenali lebih detil, kapan dan di mana saja orang sering terserang ngantuk?

Saat belajar

Sebagian orang sering mengalami ngantuk pada saat belajar. Belajar yang dimaksud disini adalah belajar disatu ruangan. Baik itu seorang pelajar, mahasiswa, karyawan, peserta diklat, seminar, penyuluhan, pengajian, dan sejenisnya. Apa yang menyebabkan orang sering ngantuk pada saat belajar? Berdasarkan pengalaman dan pendapat dari beberapa “alumni partai ngantuk”. Tentu yang harus Anda periksa pertamakali adalah mo-ti-vasi. Karena motivasi sangat menentukan pensikapan seseorang pada saat belajar.

Coba Anda bayangkan! Jika motivasi kita lemah dalam mengikuti suatu pelajaran, apa yang akan Anda rasakan? Ya, Anda akan merasa malas, bosan atau bahkan jenuh. Nah, dari sinilah awalnya ngantuk meraksuki diri Anda.

Bagaimana jika Anda merasa motivasi mengikuti perkuliahan atau pelajaran cukup kuat. Eh… masih ngantuk juga. Kemungkinan lain adalah kondisi pisik yang memang tidak prima. Apakah kelelahan, sangat kurang tidur, atau ada hal-hal lain yang membuat pisik tidak prima. Mungkin juga pembawaan guru, dosen, atau nara sumber saat itu tidak menarik bagi Anda.

Saat membaca

Pada saat membaca, salah satu bagian tubuh yang terkuras tenaganya adalah mata. Banyak lho orang yang mengeluhkan sering diserang ngantuk pada saat membaca. Entah itu membaca di kamar, di ruang tamu, di perpustakaan, ataupun di tempat umum. Hal ini disebabkan oleh… apa coba? pertama, sama dengan yang di atas. Ya…. itu dia = mo-ti-va-si, buku yang Anda baca memang tidak terlalu menarik bagi Anda. Ketiga, faktor pencahayaan yang kurang terang.

Saat berkendaraan

Nah, tidak sedikit orang yang sering terserang ngantuk pada saat mengendarai mobil maupun motor. Apakah Anda pernah mengalaminya? Wah, hati-hati! Anda tahukan bagaimana resiko orang yang ngantuk pada saat mengendarai mobil atau motor?

Saat rapat

Saya sering mendengar dan melihat sendiri bagaimana orang ngatuk pada saat rapat atau semacam pertemuan resmi. Sebetulnya bisa tidak ada manfaat sama sekali pertemuan tersebut bagi yang ngantuk. Lebih fatal lagi kalau pertemuan itu membicarakan urusan negara atau maju mundurnya suatu perusahaan.

Saat ibadah

Hampir di setiap acara pengajian, ceramah keagamaan, ada saja orang yang ngantuk. Memang saat ini merupakan saat-saat rawan orang terserang ngantuk. Bahkan pernah ada yang tertidur sampai mendengkur pada saat khutbah jum’at. “Kalau mau tidur di rumah aja mas” ?.

Saat di kendaraan umum

Pernahkah Anda ngantuk saat naik kendaraan umum, seperti angkot, bis kota, kereta api dan kendaraan umum lainnya. Suatu saat teman saya yang ngantuk di kendaraan umum. Tidak terasa sambil mengeluarkan “hujan local” lalu tertidur. Tiba-tibaaa…… wah, wah, hp saya mana ya?

Apa yang terjadi, hp-nya diambil orang . Makanya hati-hati!

Saat bekerja

Hal ini sebetulnya sudah menjadi rahasia umum. Ngantuk saat bekerja. Apapun pekerjaan Anda, di manapun Anda bekerja, kapanpun waktunya. Yang jelas bukan saat yang tepat Anda terkantuk-kantuk apalagi sampai tertidur. Apa coba akibatnya jika ngantuk tidak dapat Anda.

kendalikan pada saat bekerja.

1. Anda mungkin tidak dapat mencapai target seperti rekan Anda yang lain

2. Anda menjadi cemoohan teman-teman

3. kredibilitas Anda bisa turun

4. kecelakaan bisa menimpa Anda, jika yang Anda mengerjakan hal-hal yang mengandung resiko tinggi

5. atau Anda dipecat karena dianggap tidak disiplin

3 Jurus Jitu Mengatasi Ngantuk

FaktoFaktor-faktor penting untuk mengatasi ngantuk

Setidaknya ada tiga faktor yang penting untuk mengusir ngantuk. Yaitu ;

1. faktor internal. Faktor ini ada di dalam diri Anda masing-masing. Faktor ini adalah faktor motivasi. Jika motivasi Anda lemah, tekad Anda tidak kuat, serta semangat hanya angat-angat tahi ayam. Jelas jangan harap Anda dapat mengatasi ngantuk. Oleh karena itu, pastikan bahwa Anda memilki motivasi yang kuat, tekad yang bulat, serta semangat yang membara dalam melakukan segala aktifitas Anda.

2. faktor strategi. Jika Anda menggunakan cara dan strategi yang tidak tepat, maka upaya Anda akan pecuma saja. Misalnya, setelah Anda coba berulang kali, ternyata Anda tidak cocok dengan cara cuci muka untuk mengatasi ngantuk. Oleh karena itu, tinggalkan saja cara tersebut. Temukan cara yang betul-betul cocok bagi Anda. Pada ebook ini, saya beberkan kiat-kiat praktis mengatasi ngantuk. Silahkan Anda coba, ya.

3. faktor eksternal. Faktor ini antara lain orang-orang di sekitar Anda. Bicara baik-baik, lalu minta tolong untuk diingatkan jika Anda ngantuk. Apa itu dengan cara dimissed calls, dipijat, dikejutkan, atau disiram bila perlu. ?

Kiat-kiat praktis mengatasi ngantuk

Ada banyak cara untuk mengatasi ngantuk. Berikut ini yang dapat Anda lakukan untuk mengusir ngantuk;

1. melakukan senam, gerakkannya terserah Anda. Yang penting dapat mengusir kantuk.

2. mencuci muka, ini umum dilakukan tetapi tergantung kecocokan, karena ada juga yang bertambah rasa ngantuknya kalu cuci muka

3. melakukan perubahan posisi duduk, baik posisi duduknya atau tempat duduknya. Hindari tempat duduk yang membuat Anda aman dari penglihatan orang dan nyaman bagi tubuh Anda. Karena hai itu akan mempercepat datangnya sang kantuk.

4. menarik napas yang dalam, lakukan beberapa kali. Saya paling senang melakukan cara ini. Selain dapat mengusir kantuk, juga baik untuk kesehatan.

5. buka jendela kaca mobil, jika Anda sedang mengendarai mobil. Supaya angin langsung mengenai muka Anda.

6. oleskan semacam balsem di sekitar mata Anda. Cara ini saat-saat darurat saja.

7. makan cemilan, tapi cara ini jangan dilakukan bagi Anda yang sedang belajar di kelas. Nanti pak guru atau pak dosennya marah.?

8. tempelkan sejenis es batu di mata Anda. Beberapa orang senang melakukan cara ini.

9. mencium wewangian yang tentunya cocok bagi Anda. Bisa juga mencium bau-bauan, tetapi saya tidak merekomendasikan cara ini.

10. minum kopi bisa ditambah garam. Lebih aman minum yang segarsegar dan bervitamin.

11. mengerutkan mata selama kurang lebih 10 detik. Bisa dicoba beberapa kali.

12. full musik, bagi sebagian orang bisa membangkitkan semangat beraktifitas. Sehingga Anda dapat mengucapkan selamat tinggal kantuk.

13. pasang alarm, Anda seting waktunya sesuai kebutuhan Anda. Sehingga pada saat Anda akan terserang kantuk, alarm berbunyi menyadarkan Anda untuk selalu siap siaga.

14. merokok, tetapi saya tidak merekomendasikan cara ini. Tidak baiklho untuk kesehatan.

15. gosok-gosokkan tangan, lalu usapkan ke muka Anda. Ini adalah cara orang tua dulu.

16. duduk tegak, supaya badan lebih siap dan fokus pada aktifitas.

17. bertanya saja, jika Anda sedang belajar di sekolah atau di kampus

Akhirnya, Anda sekarang sampai kepada bagian yang Anda tunggutunggu. Pada bagian ini, telah kami formulasikan dari berbagai pengalaman pribadi maupun orang lain. Sehingga ditemukanlah jurus yang ampuh dalam mengatasi ngantuk. Yaitu, yang terkenal dengan sebutan 3 Jurus Jitu Mengatasi Ngantuk. Ini dia jurus yang harus Anda miliki dan mampu Anda lakukan. Jurus pertama adalah Jurus 2 in 1 Jurus ini merupakan perpaduan antara faktor internal dan strategi Maksudnya? Maksud saya, faktor internalnya adalah. Mo-ti-va-si

Jadi… tekad Anda harus saaangat kuat untuk mengatasi ngantuk. Lalu berikutnya adalah

faktor strategi

Faktor strategi ini dapat Anda pilih salah satu dari 17 kiat-kiat yang sudah dijelaskan di atas. Artinya… Anda dapat memilih sendiri cara yang cocok dengan situasi dan kondisi yang ada.

Jurus 3 in 1

Jurus ini merupakan perpaduan antara faktor internal, strategi dan factor eksternal. Artinya jurus ini sebetulnya, jurus yang pertama ditambah factor eksternal, yaitu adanya bantuan dari orang terdekat di sekitar Anda. Bantuannya dapat disepakati bersama, yang penting targetnya kantuk hilang

Jurus ketiga

adalah Jurus All in 1 Jurus ini merupakan perpaduan antara: Faktor internal, strategi dan eksternal Ingat! jurus ini merupakan jurus pamungkas Dalam dunia persilatan, jurus pamungkas adalah jurus terakhir Jurus dimana semua kekuatan dan kemampuan dikeluarkan secara maksimal Jadi, pada jurus pamungkas ini semua faktor dan 17 kiat-kiat dikombinasikan sehingga menjadi kekuatan yang sangat dahsyat! Setuju??? ?

Nah, itulah 3 Jurus Jitu Mengatasi Ngantuk! Saya yakin, dengan diterapkannya ketiga jurus ini. Akan membantu Anda mengatasi ngantuk, dimanapun, kapanpun dan dalam kondisi bagaimanapun. Sehingga Anda dapat terus beraktifitas, belajar, bekerja dan berkarya Kewajiban manusia adalah berusaha dengan sungguh-sungguh, Alhasil Allah-lah yang menentukan Selamat mencoba, semoga bermanfaat

sumber : copas tapi lupa ma siapa dimana kapan dll –> plagiat <NO!!>

APGAR

Posted: Juni 13, 2013 in Psikologi Perkembangan

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Belakangan ini banyak orang-orang yang hamil di usia muda, namun tidak sedikit yang juga hamil di usia tua. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang melahirkan atau dipaksa oleh keadaan. Padahal jika hamil pada usia yang tepat, kualitas kelahiran juga akan memuaskan. Kecuali jika saat mengandung sang ibu kurang memperhatikan sang jabang bayi.

Ketika bayi dilahirkan kita dapat langsung melakukan penilaian keadaan umum bayi setelah dilahirkan. Dengan cara melakukan penilaian APGAR yaitu Activity (Aktifitas), Pulse (Nadi), Grimace (Mimik), Appearance (Tampilan kasat mata) dan Respiration (Pernapasan). Sehingga kita bisa mengetahui apakah bayi tersebut normal atau tidak.

  1. RUMUSAN MASALAH
    1. Pada usia berapakah seorang wanita ideal untuk hamil dan melahirkan? Jelaskan alasannya!
    2. Apakah yang dimaksud dengan tes APGAR?
  1. TUJUAN PEMBUATAN MAKALAH
    1. Dapat mengetahui usia ideal wanita untuk hamil dan melahirkan.
    2. Dapat mengetahui keterangan yang lebih luas mengenai tes APGAR.

PEMBAHASAN

Usia yang ideal untuk wanita hamil dan melahirkan berkisar antara 22-25 tahun. Karena pada usia tersebut biasanya seorang wanita sudah mulai dewasa secara fisik, matang sistem reproduksinya dan juga mentalnya. Sehingga mereka sudah siap untuk kehidupan kedua di dalam tubuhnya. Secara psikologis juga sudah mampu untuk menghadapi tekanan-tekanan yang akan menjadi gangguan untuk diri sendiri dan juga bayinya saat mengandung. Dan yang paling penting wanita pada umur sekian sudah memiliki naluri kasih sayang serta tahu apa yang baik dan tidak baik ketika sedang mengandung.

APGAR SCORE

Merupakan pemeriksaan pertama yang dilakukan kepada bayi yang baru lahir (masih di ruang bersalin). Pemeriksaan ini secara cepat akan mengevaluasi keadaan fisik dari bayi yang baru lahir dan sekaligus mengenali adanya tanda-tanda darurat yang memerlukan dilakukannya tindakan segera terhadap bayi baru lahir. Apgar skor mulai berkembang sejak tahun 1952 oleh seorang dokter anastasi (bius) bernama Virginia Apgar. Dan APGAR sendiri merupakan gabungan kata Activity (Aktifitas), Pulse (Nadi), Grimace (Mimik), Appearance (Tampilan kasat mata) dan Respiration (Pernapasan). Dimana kelima hal tersebut merupakan faktor yang dinilai pada bayi baru lahir.

Lima hal yang menjadi parameter penilaian kondisi bayi baru lahir, diberikan skor 0-2 dimana 2 merupakan skor tertinggi:

  1. Aktifitas otot
  2. Denyut jantung
  3. Ekspresi/mimik
  4. Tampilan (warna kulit)
  5. Pernapasan (frekuensi napas dan usaha bernapas)

Dokter atau perawat bayi akan menjumlahkan kelima hasil penilaian di atas, untuk mendapatkan total APGAZR score. Skor yang diberikan antara 0-10 dengan skor tertinggi 10. Dari hasil penilaian tersebut dapat diketahui apakah bayi normal (vigorous baby = nilai Apgar 7-10), asfiksia sedang-ringan (nilai Apgar 4-6), atau bayi menderita asfiksia berat (nilai Apgar 0-3).

Penilaian APGAR

Tanda APGAR

2

1

0

Aktivitas otot

Aktif (Pergerakan spontan)

Lengan dan kaki menekuk dengan sedikit pergerakan

Tidak ada gerakan sama sekali

Denyut jantung

Normal (diatas 100/menit)

Di bawah 100/menit

Tidak ada

Mimik

Menarik diri, batuk oleh karena ada rangsangan

Perubahan mimik hanya ketika dirangsang

Tidak ada respon terhadap rangsangan

Tampilan

Warna kulit normal, merata di seluruh tubuh

Warna kulit normal, kaki dan tangan pucat

Warna pucat atau kebiruan di seluruh tubuh

Pernapasan

Normal, tanpa ada usaha berlebih, menangis kuat

Pelan, tidak teratur, menangis lemah

Tidak bernapas

 

Tujuan APGAR

Bayi dengan hasil total 7 atau lebih pada menit pertama setelah lahir, secara umum berada pada keadaan sehat. Bukan berarti skor yang rendah menunjukan bahwa bayi tersebut tidak normal atau tidak sehat. Hasil yang rendah pada penilaian itu, menunjukan bahwa bayi membutuhkan tindakan yang sifatnya segera, seperti menyedot/mengeluarkan cairan dari saluran pernapasan atau pemberian oksigen untuk membantu pernapasan. Tindakan yang dimaksudkan dapat memberikan perbaikan keadaan bayi secara umum.

Pada menit ke-5 setelah lahir, penilaian kembali dilakukan, dan jika nilai bayi tidak naik hingga 7 atau lebih dan berdasarkan pertimbangan lainnya dari keadaan bayi maka dokter dan perawat akan melanjutkan tindakan medis yang perlu dilakukan dan pemantauan intensif. Beberapa bayi yang lahir dengan masalah pada organ jantung dan paru-paru akan membutuhkan tindakan medis lanjutan, sedangkan yang lain hanya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan luar. Kebanyakan bayi baru lahir dengan nilai APGAR di bawah 7, akan baik-baik saja.

Hal yang penting bagi orang tua yang baru memiliki bayi untuk mengetahui penilaian APGAR. Penilaian ini dibuat untuk menolong tenaga kesehatan dalam mengkaji kondisi secara umum bayi baru lahir dan memutuskan untuk melakukan tindakan darurat atau tidak. Penilaian ini bukan ditujukan sebagai prediksi terhadap kesehatan bayi atau perilaku bayi, bahkan status intelegensial/kepandaian. Beberapa bayi dapat mencapai angka 10 dan tidak jarang bayi yang sehat memiliki skor yang lebih rendah dari biasanya, terutama pada menit pertama saat baru lahir.

Perlu diingat bahwa skor APGAR agak rendah (terutama pada menit pertama) adalah normal bagi beberapa bayi baru lahir. Terutama bayi yang lahir dari ibu hamil dengan resiko tinggi, lahir melalui operasi cesar, atau ibu yang memiliki komplikasi selam kehamilan maupun proses persalinan. Skor APGAR yang rendah juga bisa terjadi pada bayi prematur dimana kemampuan untuk menggerakan otot/alat gerak lebih rendah dari pada bayi cukup bulan. Bayi prematur dalam kasus apapun akan memerlukan pemantauan ekstra dan bantuan pernapasan dikarenakan paru-paru belum sempurna.

 

KESIMPULAN

Usia kehamilan akan mempengaruhi proses kelahiran bayi, semakin tepat usia kehamilan semakin tinggi kesempatan bayi lahir dengan normal.

Dengan penilaian APGAR kita bisa mengetahui tindakan apa yang dilakukan untuk bayi yang baru lahir.

PENGASUHAN ANAK PADA PERNIKAHAN DINI

            Pernikahan dini merupakan pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang belum mencapai usia minimal diperbolehkannya seseorang untuk menikah. Untuk laki-laki adalah 21 tahun sedangkan wanita 18 tahun. Usia pasangan yang terlalu muda disarankan untuk tidak menikah, hal ini dikarenakan oleh keadaan mereka yang relatif belum stabil. Secara fisik mereka masih lemah, apalagi untuk wanita yang belum waktunya mengandung. Hormon yang belum sempurna akan mempengaruhi kualitas kandungan pada bayi, mulai dari pemberian gizi pada kandungan hingga perawatan diri ketika mengandung. Usia yang masih muda juga rentan berubah secara psikologis, terutama ketika mereka menghadapi tekanan-tekanan yang belum seharusnya mereka alami.

            Hal ini akan berdampak pada pengasuhan pasangan terhadap anak mereka. Keadaan yang belum stabil (secara fisik dan mental) akan membuat orang tua relatif melakukan pola pengasuhan yang otoriter atau permisif, baik permisif indifferent maupun permisif indulgent.

Pola pengasuhan yang otoriter menuntut anak untuk selalu mengikuti kemauan orang tua. Dominasi langsung orang tua akan membuat anak merasa diremehkan, kurangnya pengertian akan kebutuhan pribadinya dan anak menjadi mempunyai tanggung jawab yang berlebihan karena adanya tuntutan dari orang tua. Akhirnya anak menjadi mudah cemas dan cenderung tidak memiliki rasa aman. Anak pun akan memiliki ketrampilan diri yang rendah (karena selalu dituntut oleh orang tua) dan selalu membandingkan diri dengan lingkungan sosial. Kebutuhan neurotik akan kekuasaan akan membuat anak menerapkan strategi moving againts (agresi) dengan mengeksploitasi orang lain. Harga diri dan prestasi pribadi juga menjadi kebutuhannya untuk menghilangkan kesan selalu diatur oleh orang tua.

 

Orang tua yang masih muda juga cenderung melakukan pola pengasuhan permisif indulgent, yaitu terlalu terlibat di dalam kehidupan anak. Hal ini menyebabkan anak merasa terisolasi dari kehidupan anak yang lain dan merasa terlalu dilindungi. Terkadang orang tua juga membanggakan anak secara berlebihan, sehingga anak merasa harus sempurna. Kebutuhan neurotik akan keinginan untuk berdiri sendiri dan memiliki independensi serta kebutuhan untuk menjadi sempurna membuat anak menggunakan strategi moving away (withdrawl). Hal tersebut dilakukan karena anak ingin mempunyai dunia mereka sendiri tanpa selalu diawasi oleh orang tua.

Pengasuhan permisif indifferent biasanya dilakukan oleh orang tua yang aktif dalam mencapai karir atau sedang mencari kemapanan secara ekonomi. Anak menjadi tidak penting sehingga mereka sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak. Orang tua menjadi masa bodoh dan tidak membimbing anak dengan sungguh-sungguh. Anak merasa tidak mendapatkan keadilan dan di-diskriminasi oleh orang tua. Sehingga menjadi pribadi yang mempunyai kendali dan kemandirian buruk karena tidak pernah diajari atau dilatih oleh orang tua. Kasih sayang dan seseorang yang mengurus dia, menjadi kebutuhan neurotik yang harus dipenuhi membuat anak melakukan strategi moving toward. Dengan menunjukan kasih sayang dan perhatian kepada semua orang agar diberikan perhatian lebih.

Pada usia muda orang tua cenderung belum stabil emosi dan psikisnya, tidak jarang terjadi perceraian atau suasana yang kurang hangat dalam keluarga. Keadaan tersebut juga membuat anak melakukan moving toward karena membutuhkan kasih sayang dan seseorang yang mengurusinya.

Berikut ini ada beberapa saran bagi orang tua yang melakukan pernikahan dini maupun lingkungan yang terdapat kejadian seperti di atas :

  1. Menggunakan pola pengasuhan otoritatif, yaitu mendorong anak untuk mandiri namun tetap melakukan pengendalian akan batas-batas yang ada.
  2. Seimbangkan antara kebutuhan dalam ekonomi, pribadi dan anak.
  3. Memberikan kepercayaan pada anak dan rasa aman yang tidak berlebihan.
  4. Untuk lingkungan, harus memperhatikan dan mendukung orang tua yang masih muda agar mempunyai pola pengasuhan yang benar.
  5. Ketika ada anak yang mempunyai kebutuhan neurotik, cobalah untuk dipenuhi agar masa akan-anak mereka tidak terganggu.

Menguap

Posted: Juni 12, 2013 in no title

MENGUAP TIDAK SELALU BERARTI MENGANTUK

Rasa kantuk memang selalu diidentikkan dengan menguap (yawning). Tapi, tidak demikian sebaliknya. Menguap tidak dapat selalu diartikan mengantuk. Mekanisme terjadinya hal ini sebenarnya berbeda. Dalam tulisan kali ini, Care and Healed akan membahas sedikit tentang menguap tidak selalu berarti mengantuk.

Mengantuk merupakan proses mempersiapkan diri untuk tidur (bedtime). Ini berhubungan dengan circadian ritme seseorang dimana ia telah mengeset jam biologis tertentu (seperti lapar, haus, mengantuk, tidur, bangun, olahraga, dan sebagainya). Proses mengantuk sendiri merupakan hasil dari peninggian hormon melatonin yang disekresikan oleh kelenjar pineal di otak, sebagian disekresikan di lambung dan usus. Melatonin ini meninggi saat mata menangkap kegelapan, dan menurun saat mata menangkap cahaya. Jadi, berdasarkan teori ini, manusia memang memiliki jam tidur pada malam hari dan jam kerja pada siang hari. Gangguan pada hormon ini akan menyebabkan insomnia (sulit tidur pada malam hari).

Menguap terjadi pada saat tubuh kekurangan oksigen. Dengan menguap, kita menghirup oksigen sebanyak-banyaknya melalui mulut agar dapat memenuhi kekurangan oksigen di dalam tubuh. Anda bisa membuktikannya sendiri, bahwa saat menguap, kita akan mengambil nafas dalam-dalam, bukan membuang nafas.

Hal-hal yang menyebabkan tubuh kekurangan oksigen

Antara lain adalah :
Kelaparan. Dalam keadaan kurangnya asupan glukosa, maka metabolisme otak akan menurun. Otak merupakan organ yang paling rakus terhadap konsumsi glukosa dan oksigen. Menurunnya asupan glukosa, maka secara tidak langsung menurunkan konsumsi oksigen oleh otak. Reaksi selanjutnya, selain menerbitkan rasa lapar ke daerah lambung, adalah menguap.

Keletihan. Penggunaan energi untuk bekerja otomatis membutuhkan oksigen sebagai bahan bakarnya (oksidasi). Selain membutuhkan oksigen yang banyak, hasil oksidasi juga memunculkan oksidan yang harus dibuang. Jika menumpuk, maka ia akan mengganggu sirkulasi darah. Menguap membantu mencukupi kebutuhan oksigen yang kurang tersebut.

Belajar ataupun hal-hal yang memeras pikiran. Para pelajar, mahasiswa, analis, dokter, dan sebagainya, yang sehari-harinya mengandalkan otaknya, bukan otot, untuk bekerja, maka akan lebih sering menguap. Biasanya, proses ini diikuti dengan rasa lapar. Metabolisme otak yang tinggi membutuhkan asupan glukosa dan oksigen lebih banyak lagi.

Stress ataupun beban psikologis lain. Saat stress ataupun terbeban sesuatu, reaksi pertama pada manusia adalah mempercepat denyut jantungnya, mempercepat nafasnya. Bagi mereka yang terbiasa dengan kondisi ini, misalnya pada dokter UGD, pemadam kebakaran, tentara, reaksi ini tidak menimbulkan dampak apapun. Tapi, pada mereka yang tidak terbiasa, mekanisme alert ini akan membuatnya cepat letih, yang pada gilirannya nanti dia akan menguap.

Tekanan udara yang tinggi. Pada daerah yang sangat tinggi, tekanan udara yang tinggi akan menyebabkan paru-paru sulit mengambil udara. Jika tidak ada latihan sebelumnya, maka hal ini akan sangat berbahaya, misalnya di atas pesawat, jet, dan sebagainya.

Udara dingin. Pada suhu udara yang lebih rendah, tubuh akan mempertahankan suhu rata-rata tubuh (36,5-37,1 derajat Celcius) dengan cara membakar lemak. Hal ini berguna agar tubuh tidak jatuh ke keadaan kedinginan. Jika gagal, dibantu dengan jaket, selimut, ataupun baju tebal lainnya. Proses peningkatan metabolisme lemak ini membutuhkan oksigen lebih banyak dan tambahan asupan makanan. Tidak heran jika di daerah yang dingin, kita akan lebih cepat lapar, menguap, dan mengantuk.

Ruangan yang sempit, ventilasi yang kurang baik, dan ber-AC. Dalam ruangan ber-AC, kita cenderung menutup semua lubang ventilasi agar udara dinginnya tidak sia-sia dan bisa kita nikmati. Padahal cara ini justru mengurangi sirkulasi udara, menurunkan oksigen, dan meningkatkan kandungan carbondioksida. Pastikan ruangan tersebut memiliki exhaust-fan. Jika tidak, bukalah jendela Anda.

Penyakit-penyakit yang dihubungkan dengan mengantuk

  • Kurang darah (anemia)
  • Tekanan darah rendah (hipotensi)
  • Diabetes
  • Hiperkolesterol
  • Gangguan gizi
  • Chronic Hepatitis
  • Gangguan paru
  • Gangguan-gangguan metabolik lainnya

Jadi, menguap memang tidak selalu berarti mengantuk. Untuk memutuskan tidur atau tidak, seyogyanya kita tidak perlu menunggu menguap dulu. Saat mata terasa berat, tanpa menguap pun, sudah berarti hendak tidur.

Selamat tidur bagi mereka yang hendak tidur. Dan bagi yang tidak, selamat membaca artikel-artikel lainnya.