Memori

Posted: Juni 12, 2013 in Psikologi Kognitif

MEMORI

Pengertian memori.

Memori adalah kemampuan jiwa untuk memasukan (learning), menyimpan (retention) dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang telah lampau.  Dengan adanya kemampuan untuk mengingat, manusia mampu menyimpan dan menimbulkan kembali apa yang telah pernah dialaminya.

Memori mempunyai tiga fungsi/proses, yaitu: memberi kode/sandi, menyimpan dan menimbulkan kembali diantaranya:

  • Pada proses penyimpanan, informasi yang telah diberi kode tersebut diletakkan dalam struktur memori.
  • Pada proses penimbulan kembali informasi yang tersimpan berusaha diakses kembali pada saat dibutuhkan.
  • Proses memunculkan kembali memori (record) yang tersimpan dalam memori permanent meliputi tiga cara, yaitu: recall, recognition dan rekonstruksi inferensial.

Sistem memori manusia tersusun dari tiga komponen storage (penyimpanan).  Informasi (yaitu stimulus dari lingkungan)  terlebih dahulu melalui sensory storage, lalu melawati short-term memory dan pada akhirnya berakhir dalam long term memory.

Stimuli beragam yang akan mengaktifkan seorang pembelajar dalam memproses suatu memori dapat berupa data atau elemen psikologi, persepsi, fisiologi, lingkungan, emosi dan sosial. Dengan bimbingan seorang guru maka seorang pembelajar atau pelajar akan mampu menyimpan memori yang di-encoded dengan baik. Memori yang disimpan dalam encoding yang baik akan lebih mudah diakses kembali dan lebih mudah digunakan untuk membuat suatu konsep atau memecahkan suatu masalah.

Peningkatan memori dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya:

  • Mempelajari sesuatu berulang-ulang.
  • Menyediakan waktu lebih banyak untuk rehearsing atau mengulang encoding data tertentu.
  • Membuat bahan/materi yang memiliki arti atau kesan spesifik/tertentu.
  • Menggunakan memonic devices seperti cerita, akronim.
  • Mengaktifkan retrieval cues- rekreasi mental.
  • Me-recall peristiwa ketika masih segar (fresh) kemudian menuliskan sebelum terjadi gangguan (interference).
  • Meminimalisir interference dan melakukan ujian (test) terhadap diri sendiri tentang apa yang mungkin membuat kita lupa.

Pembentukan memori secara biologi, merupakan hal yang sangat kompleks yang terutama diperankan oleh sistem saraf yang berpusat di otak. Pusat dari proses mengingat di otak terletak pada area hippocampus. Secara sederhana, proses pembentukan memori atau proses terbentuknya ingatan dimulai dari adanya stimuli berupa audio, visual dan taktil (sentuhan) yang akan ditangkap oleh indra kita. Sebagian dari stimuli tersebut akan di-encoded dan sebagian tidak. Stimuli atau data yang di-encoded akan disimpan dalam bentuk short term memory atau immediate memory atau serupa pada RAM komputer. Selanjutnya data akan di-encoded untuk kedua kalinya dan kemungkinan diperkaya dengan pengalaman atau memori yang telah ada sebelumnya atau nilai/kepercayaan yang telah ada untuk disimpan dalam bentuk long term memory atau setara disimpan dalam hard disc komputer. Proses pengayaan dengan nilai tertentu tersebut setara dengan penamaan atau notasi file pada komputer.

Perkembangan Memori.

Kemampuan memori manusia berkembang sejalan dengan pertambahan usia.  Pada bayi yang baru lahir baru memiliki kemampuan rekognisi, sedangkan kemampuan recall baru dicapai pada usia satu tahun.  Anak-anak yang masih kecil dan bayi memiliki kapasitas memori, tetapi masih diragukan bahwa memori yang dibentuk dapat dipercaya atau dapat diakses kembali sebelum berusia dua tahun.  Orang dewasa lebih bersandar pada representasi semantik, sementara anak-anak lebih bersandar pada representasi berbasis persepsi (yaitu imagery).  Dalam hal menggunakan strategi memori seiring bertambah usia maka strategi memori seseorang semakin meningkat.  Anak-anak yang sudah cukup besar dan orang dewasa lebih cepat mengingat informasi dibandingkan dengan anak-anak yang masih kecil.

Hubungan Memori dan Belajar

Terdapat hubungan yang berat antara memori dan belajar.  Dalam proses belajar akan melibatkan pengolahan dan penyimpanan informasi.  Hasil belajar bisa diketahui melalui proses pengungkapan kembali apa yang telah diketahui siswa.  Jadi, dalam belajar dibutuhkan pemanfaatan kemampuan memori oleh siswa guna menyerap informasi yang diterima, menyimpan dan memunculkan kembali pada saat menjawab soal ulangan atau ujian.

Model memori.

Model memori berdasarkan pendekatan distribusi parallel (parallel distributed processing approach) berpandangan bahwa proses kognitif bisa direpresentasikan dengan model aktivasi aliran melalui jaringan yang menghubungkan antara satu unit neuron dengan unit neuron yang lain ( PDP approach). Menurut Jame Mcclelland (1981) adalah salah satu pengembang utama dari pendekatan PDP. Dia mendiskripsikan tentang bagaimana pengetahuaan tentang sekelompok individu disimpan dengan adanya koneksi yang menghubungkan individu tersebut dengan karakteristik persoalannya. Dalam pendekatan PDP setiap karakteristik individu saling berhubungan  dalam sebuah jaringan. Jika koneksi antar karakteristik tersebut dibangun melalui praktek atau kebiasaan yang luas, maka petunjuk yang tepat akan membantu individu menemukan karakteristik dari individu tertentu.

Kelebihan dari model PDP adalah

  • Dapat menjelaskan bagaimana memori bisa membantu disaat beberapa informasi hilang.
  • Dapat membuat spontaneous generalization ( membuat inferensi/kesimpulan tentang informasi umum yang belum pernah dipelajari sebelumnya.
  • Dapat mengisi informasi yang kurang lengkap tentang orang atau objek tertentu dengan membuat terkaan yang benar.

Secara umum karakteristik dari PDP adalah sebagai berikut:

  • Mengandung unit dasar yang menyerupai neuron atau nodes, yang saling berhubungan sehingga unit yang satu berhubungan dengan unit yang lain.
  • Koneksi antar unit tersebut berbobot, dan connection weights (bobot koneksi) ini menentukan seberapa banyak aktivasi satu unit bisa menghubungkan unit lainnya.
  • Ketika suatu unit mencapai tingkat aktivasi yang kritis, maka akan mempengaruhi unit lainnya yaitu memunculkannya (jika bobot koneksi positif) atau menghilangkannya (jika bobot koneksi negativ).
  • Proses kognitif didasarkan pada operasi parallel daripada operasi serial. Beberapa pola aktivasi diproses secara bersamaan.
  • Pengetahuaan disimpan dalam asosiasi koneksi antar unit dasar dan terdistribusi dalam banyak lokasi.
  • Setiap kejadiaan baru merubah rentangan koneksi diantara unit yang relevan dengan menyesuaikan bobot koneksi.
  • Kadang individu memiliki memori partial untuk beberapa informasi. Kemamuan seseorang untuk menghasilkan memori partial disebut graceful degradation.

Meskipun PDP merupakan pendekatan yang masih relative baru dan belum dapat mengevaluasi perihal kemampuannya menampung data aktual tentang berbagai proses kognitif. Namun beberapa pakar berpendapat bahwa:

  • Pendekatan PDP lebih mampu menjelaskan beberapa jenis tugas kognitif daripada pendekatan lainnya, seperti rekognisi pola, kategorisasi dan riset memori, dimana beberapa proses mampu berjalan dalam waktu yang bersamaan (parallel operation).
  • Pendekatan PDP mampu menjelaskan tugas memori tertentu seperti menemukan aitem yang hanya disimpan dimemori dalam bentuk memori partial.
  • Model PDP mampu menjelaskan situasi yang terakumulasi secara bertahap dengan latihan (trial), sehingga model ini cenderung tidak mampu menjelaskan memori pada episode tunggal secara baik.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Memori

Faktor-faktor yang mempengaruhi memori antara lain kondisi fisik dan usia.  Kondisi yang sangat berpengaruh dalam mengingat adalah kelelahan, kurang tidur dan sakit.  Seseorang yang dalam kondisi lelah, kurang tidur dan sakit akan mengalami kesulitan untuk mengingat sesuatu.  Hal ini disebabkan karena pada kondisi seperti itu individu mengalami kemunduran kemampuan metal yang disebabkan oleh gangguan fisik tadi.  Ingatan yang paling kuat terjadi pada masa anak-anak, yaitu pada usia 10-14 tahun.  Orang yang sudah lanjut usia akan mengalami kesulitan jika diminta untuk mengingat kembali apa yang sudah dipelajari ataupun dialaminya, karenanya gejala yang paling umum ditemui pada masa ini adalah pikun.

 

 

 

Lupa Dan Penyebabnya.

Lupa adalah hilangnya kemampuan untuk menyebutkan atau memunculkan kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari.  Tidak berarti apa yang sudah kita pelajari akan hilang, hanya saja informasi tersebut terlalu lemah untuk ditimbulkan kembali.

Beberapa teori yang menjelaskan tentang lupa berdasarkan pendekatan distribusi parallel (parallel distributed processing approach), yaitu sebagai berikut:

  • Interference theory. Teori ini beranggapan bahwa informasi yang sudah disimpan dalam memori jangka panjang masih ada di dalam gudang memori ( tidak mengalami keausan).  Ini disebabkan oleh informasi yang satu menganggu proses mengingat informasi yang lain. Bila informasi yang baru diterima menyebabkan sulit mencari  informasi yang sudah ada sebelumnya dalam memori, maka terjadi interferensi retroaktif. Sedangkan informasi yang sudah tersimpan dalam memori jangka panjang mengganggu proses mengingat informasi yang baru saja disimpan disebut inferensi proaktif.
  • Retrieval Vailure. Teori ini beranggapan bahwa informasi yang sudah disimpan dalam memori jangka panjang selalu ada, tetapi kegagalan untuk mengingat kembali tidak disebabkan oleh interferensi, Tetapi disebabkan oleh tidak adanya petunjuk yang memadai. Bila isyarat tersebut dipenuhi, maka informasi tersebut tentu dapat ditelusuri dan diingat kembali.
  • Motivated Forgetting. Menurut teori ini, individu akan cenderung berusaha melupakan hal yang tidak menyenagkan. Sedangkan hal yang tidak menyenagkan atau manyakitkan cenderung akan ditekan atau tidak diperbolehkan muncul dalam kesadaran. Dari penjelasan di atas, bahwa teori ini juga benggapan bahwa informasi yang disimpan masih selalu ada , karena:
  1. Lupa karena sebab-sebab fisiologis. Penyimpanan informasi akan disertai berbagai perubahan fisik di otak yang disebut engram.gangguan ini akan mengakibatkan lupa yang disebut amnesia. Bila yang dilupakan adalah informasi yang sudah lama, maka dikatakan menderita amnesia retrograde. Bila yang dilupakan informasi yang baru saja diterima, maka dikatakan menderita amnesia anterograde. Proses lupa erat hubungannya dengan biokimiawi otak, maka kurang menjadi fokus pada pendidik (Irwanto, 1994)
  2. Theory Atropi (Disuse Theory). Yaitu teori yang membahas mengenai kelupaan yang menitik beratkan pada lama interval. Kelupaan terjadi karena jejak ingatan atau memori trace telah lama tidak ditimbulkan kembali, sehingga memori traces makin lama makin mengendap hingga pada akhirnya individu akan mengalami kelupaan (Walgito, 2002).

Kesimpulan

Kesimpulan model memori berdasarkan pendekatan distribusi parallel (parallel distributed processing approach). Bahwa kognitif seseorang dapat direpresentasikan dengan model aktivasi aliran melalui jaringan yang menghubungkan antara satu unit neuron dengan unut neuron lainnya. Selain hal tersebut informasi-informasi yang telah diterima baikyang sudah lama maupun yang baru, masih tetap ada tersimpan dalam memori, hanya kemungkinan kegagalan untuk menginggat informasi yang diiginkan disebabkan oleh tidak adanya petunjuk yang memadai. Tetapi bila syarat tersebut dipenuhi , maka informasi yang diinginkan tersebut tentu dapat ditelusuri dan diingat kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s