no title

Posted: Juni 1, 2013 in Psikologi Perkembangan

NAMAKU ‘’ BUDI RAHARJA’’ SEORANG ANAK LAKI-LAKI TAPI MENGAPA AKU LEBIH MENYERUPAI ANAK PEREMPUAN ?

I. LATAR BELAKANG
Setiap manusia dalam hidupnya akan selalu berkembang dan harus melalui tahap-tahap perkembangannya. Akibat dari perkembangan tersebut, manusia akan mengalami perubahan-perubahan, baik fisik maupun psikologisnya. Bila ditinjau dari manusia sebagai makhluk holistic, maka perkembangan manusia tidak akan dapat dilepaskan dari interaksi antara unsur biologis, psikologis, dan sosial. Ketiga unsur ini saling mempengaruhi sebagai satu kesatuan (Maramis, dalam Kurniawati (2003)).
Dalam kurun waktu perkembangan tersebut, tidak setiap individu akan berkembang sesuai dengan perkembangan fisiknya. Sebagai contoh, tidak semua anak laki-laki akan berkembang menjadi laki-laki sesungguhnya, dan tidak semua anak perempuan akan berkembang menjadi perempuan sesungguhnya. Bisa saja terjadi, anak laki-laki akan berkembang menjadi waria (laki-laki seperti perempuan) dan anak perembpuan berkembang menjadi ‘tomboy’.
Waria (laki-laki seperti perempuan) adalah seseorang yang memiliki ketidaksesuaian antara fisik dengan identitas gendernya. Mereka merasa bahwa jauh dalam dirinya, biasanya sejak masa kanak-kanak, mereka adalah orang yang berjenis kelamin berbeda dengan dirinya saat ini ((Perroto & Culkin, 1993)). Adanya ketidaksesuaian itu mengakibatkan waria tidak senang dengan alat kelaminnya dan ingin mengubahnya. Untuk mendukung perubahan tersebut, maka waria akan bertingkah laku seperti perempuan dan mengidentifikasikan dirinya sebagai perempuan dengan cara berdandan seperti perempuan (Lidiawati dalam Kurniawati (2003)). Ketika gangguan tersebut mulai terjadi pada masa kanak-kanak, hal tersebut akan dihubungkan dengan banyaknya perilaku lintas gender, seperti berpakaian seperti perempuan, lebih suka bermain dengan teman-teman perempuan, dan melakukan permainan yang secara umum dianggap sebagai permainan perempuan (Davidson, Neale, and Kring, 2006).

Faktor penyebab munculnya perubahan perilaku dari laki-laki menjadi waria dapat ditinjau dari beberapa perspektif, yaitu: biologis, behavioristik, dan sosiokultural (Nevi, Ratus, dan Greene, 1994).
Perspektif biologis berkaitan dengan masalah hormonal, behavioristik berkaitan dengan penguatan yang diberikan oleh keluarga atau orang lain, sedangkan perspektif sosiokultural berkaitan dengan faktor budaya.

II. PENYEBAB PERUBAHAN PERILAKU DARI LAKI-LAKI MENJADI SEPERTI WANITA

A. Ditinjau dari Perspektif Behavioristik
Teori Operant Conditioning dari B.F. Skinner:
Manusia dibentuk oleh lingkungan. Manusia lahir dengan potensi yang bisa dikembangkan kearah mana saja. Melalui proses pembentukan manusia bisa menjadi sosok tertentu dengan kepribadian tertentu.
Penyebab seorang laki-laki menjadi seperti perempuan adalah adanya penguatan dari keluarga, berupa perhatian dan dorongan pada masa kanak-kanak ketika individu tersebut beraktivitas atau memakai pakaian lawan jenis. Sebagai contoh, orangtua yang sangat ingin anak perempuan seringkali memperlakukan anak laki-lakinya seperti perempuan (Perroto & Culkin, 1993).
Secara sederhana proses terbentuknya perubahan perilaku dari laki-laki menjadi seperti perempuan:

Stimulus diskriminatif  respon operant  stimulus penguat
______________________________________________________
Masa kanak-kanak  anak laki-laki berpakaian perempuan  mendapatkan pujian dan perhatian dari orang tua
Keterangan:
Stimulus diskriminatif : masa kanak-kanak
Respont operant : anak laki-laki berpakaian perempuan
Stimulus penguat : pujian dan perhatian dari orang tua

Reaksi penguat dari keluarga yang terus menerus dalam jangka waktu lama pada akhirnya akan menyebabkan timbulnya konflik antara anatomi seks dengan identitas jenis kelamin anak (Neale, Davidson, dan Haaga, 1995)

B. Ditinjau dari Perspektif Sosiokultural
Social learning theory adalah pandangan yang menekankan perilaku, lingkungan, dan kognisi sebagai factor kunci dalam perkembangan (Santrock, 2002)
Bagian utama dari proses belajar manusia terdiri dari belajar observasi/mengamati (Bandura dalam Feldman, 1996). Melalui belajar mengamati secara kognitif individu tersebut akan menampilkan perilaku orang lain kemudian mengadopsi perilaku itu dalam dirinya (Santrock, 2002).
Perilaku menyimpang juga seringkali terbentuk melalui proses belajar dengan observasional. Penyebab perilaku dari laki-laki menjadi seperti perempuan juga dapat disebabkan karena proses observasi individu terhadap waria sebagai model. Secara kognitif akan menampilkan perilaku seperti perempuan/waria tersebut kemudian mengadopsi perilaku itu dalam dirinya.

C. Ditinjau dari Perspektif Biologis
Dalam membahas perilaku laki-laki yang berperilaku seperti perempuan, tentu berkaitan dengan masalah identitas jenis kelamin. Identitas jenis kelamin tergantung pada bagaimana seseorang menggunakan perilaku dan peran yang telah ditetapkan (Liebert dan Nelson, dalam Kurniawati, 2003)).
Proses untuk memahami peran sesuai dengan jenis kelaminnya disebut sex role typing. Tampak bahwa berhasil atau tidaknya seseorang menerima dan memahami perilaku sesuai dengan peran jenis kelaminnya akan menentukan berhasil atau tidaknya seseorang dalam peran jenis kelaminnya akan menentukan berhasil atau tidaknya seseorang dalam pembentukan identitas jenis kelamin.
Factor yang berhubungan dengan peran jenis kelamin (Hetheringhton & Parke (dalam Kurniawati, 2003)):
1. Faktor Biologis
Hormon mempengaruhi pembentukan identitas kelamin. Pada dasarnya, baik pria maupun wanita memiliki hormon yang sama hanya kuantitasnya yang berbeda. Normalnya, pada laki-laki lebih banyak memiliki hormon androgen sedangkan pada wanita lebih banyak memliki hormon estrogen. Kemungkinan, pada anak pria yang berperilaku seperti wanita, kuantitas hormon estrogennya lebih banyak daripada hormon androgennya.

2. Faktor Kognitif
Jika ada anak yang diperlakukan berbeda sehingga dia merasa dikelompokkan menjadi wanita, maka dia akan meniru model tokoh sesuai dengan bagaimana dia dikelompokan.

3. Faktor Sosial
Yaitu pemaksaan untuk berperilaku sesuai dengan sumbernya seperti keluarga, sekolah, teman, atau masyarakat
Kegagalan dalam memahami peran sesuai dengan jenis kelaminnya, akan membuat individu mengalami gangguan identitas gender yang disebut transeksual atau waria.
D. Mekanisme Pembentukan Gamet
Sebelum terjadi pertemuan antara ovum dab sperma pada fertilisasi interna terjadilah pembentukan gamet jantan dan betina.
Pembentukan gamet jantan
Proses pembentukan dan pemasakan spermatozoa disebut spermatogenesis. Pada tubulus seminiferus testes terdapat sel-sel induk spermatozoa atau spermatogonium, sel sertoli yang berfungsi memberi makanan spermatozoa juga sel leyding untuk menghasilkan testosteron. Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon. Kelenjar hipofisis menghasilkan hormon perangsang folikel FSH (folicle Stimulating Hormone) dan hormon lutein LH (Luteinizing Hormone). LH merangsang sel leydig untuk menghasilkan hormon testosteron. Pada masa pubertas androgen / testosteron memacu tumbuhnya sifat kelamin sekunder .FSH merangsang sel sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang akan memacu spermatogonium untuk memulai spermatogenesis. Pada spermatozoa disebut spermatogenesis. Spermatogenesis terjadi didalam epididimis dan membutuhkan waktu selama dua hari.

E. Mekanisme Spermatogenesis
Spermatogenesis terjadi seteleh seorang laki-laki mengalami masa pubertas. Proses ini kemudian akan terjadi secara teratur dan terus-menerus seumur hidup laki-laki. Didalam testes spermatogenesis terjadi didalam tubulus seminiferus. Pada dinding tubulus seminiferus telah tersedia calon-calon sperma yang berjumlah ribuan. Spermatogonium akan mengalami pembelahahan mitosis membentuk spermatosit primer. Spermatosit primer melakukan pembelahan meiosis pertama membentuk 2 spermatosit sekunder, tiap spermatosit sekunder membelah secara meiosis (meiosis kedua) akan menghasilkan 2 spermatosid yang bersifat haploid. Keempat spermatosid ini berkembang menjadi sperma masak yang bersifat haploit. Sperma yang telah masak akan menuju ke epididmis. Setiap proses spermatogenesis memerlukan waktu 65 hari-75 hari.

F. Pengaruh Hormon Dalam Perilaku Seksual Pria Dan Wanita
Tidak ada bukti yang kuat bahwa kelainan hormon androgen pada masa prenatal memberi pengaruh pada kelainan perilaku seksual laki-laki maupun perempuan. Hormon androgen pada masa prenatal memang akan mempengaruhi proses defeminisasi (jaringan saraf yang mengontrol perilaku seksual wanita) dan maskulinisasi (jaringan saraf yang mengontrol perilaku seksual pria) namun dalam perkembangannya dimasa dewasa belum tentu terjadi kelainan perilaku.

G. Pubertas
Laki-laki muda biasanya kematangan seksualnya ketika berumur 14 tahun walaupun kematangan seksual boleh berlangsung beberapa tahun kemudian atau lebih awal. Pada masa ini kematangan seksual disebut pubertas. Pubertas dapat ditentukan oleh faktor yang tidak diketahui karena hipotalamus dari otak merangsang granula pituitari dapat merangsang sekresi testosteron dari testis dan mensekresi steroid dari grandula adrenal. Untuk laki-laki biasanya menurun testosteronnya pada usia 40- 50 tahun, tidak berubah drastis seperti yang terjadi pada wanita pada usia yang sama dengan laki-laki. Pada masa ini beberapa masalah psikologi terjadi dan kemungkinan tidak disebabkan oleh karena kurangnya testosteron akan tetapi karena ketakutan sendiri impotensi pada usia tua. Selama kekurangan testosteron, laki-laki normal mungkin menahan potensi seksualnya dengan baik sampai umur 80 tahun. Pada laki-laki spermatogenesis terjadi seumur hidup, dan pelepasan spermatozoa dapat terjadi setiap saat. Pada wanita ovulasi hanya berlangsung sampai umur sekitar 45– 50 tahun. Seorang wanita hanya mampu menghasilkan paling banyak 400 ovum selama hidupnya, meskipun ovarium seorang bayi perempuan sejak lahir sudah berisi 500 ribu sampai 1 juta oosit primer.

Secara umum ada tiga orientasi seksual yang kita kenal, yaitu:
a. Heteroseksual (memilih lawan jenis dalam melakukan aktifitas seksual).
b. Homoseksual (memilih sesama jenis dalam melakukan aktifitas seksual).
c. Biseksual yaitu tertarik dalam lawan jenis dan sesama jenis dalam melakukan aktifitas seksual.
Penelitian menunjukan bahwa orientasi atau preferensi (pilihan) seksual tidak berkaitan dengan tingkat produksi hormon, namun dalam beberapa penelitian yang menyatakan bahwa bila janin wanita dalam kandungan tidak terlindung dari produksi estrogen, maka ada kemingkinan ia akan menjadi wanita lesbian atau biseks, namun penelitian terakhir lebih mengarah pada adanya INAH3 (thirt interstitial nucleus of the anterior hypothalamus) yang pada pria besarnya dua kali dari pada nucleus dari pada wanita, namun pada pria homo seks besarnya sama dengan INAH 3 pada wanita. (sumber: http://www.scribd.com/doc/46912042/Makalah-Biologi-Rep)

Tempat Spermatogenesis

III. KESIMPULAN
1. Penguatan dari keluarga dan lingkungan pada saat anak berperilaku dan berpakaian seperti perempuan, merupakan faktor utama penyebab perubahan individu laki-laki menjadi seperti perempuan.
2. Peran ayah sangat penting dalam perkembangan identitas jenis kelamin anak.
3. Faktor biologis merupakan penyebab anak laki-laki menjadi seperti perempuan, karena berhubungan dengan ketidaknormalan hormon.
4. Peran orang tua sangat besar dalam pembentukan identitas jenis kelamin pada anak. Oleh sebab itu, anak harus diajarkan untuk berperilaku sesuai dengan identitas jenis kelaminnya. Apabila anak sudah mulai menunjukkan perilaku yang menyimpang dari identitas jenis kelaminnya, maka orang tua harus mengingatkan dan menjelaskan bahwa perilaku itu tidak benar dan ajarkan berperilaku sesuai dengan identitas jenis kelaminnya. Dan yang harus diingat, perkembangan identitas jenis kelamin anak merupakan proses belajar bukan hanya perkembangan secara natural.

IV. DAFTAR PUSTAKA
Meike Kurniawati S.Psi, MM. Sebuah Kegagalan Dalam Proses Pendidikan Pembentukan Identitas Gender. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara

Kurniawati, M. (2003). Latar Belakang Kehidupan Laki-laki yang Menjadi Waria.
Skripsi Sarjana Strata I (tidak diterbitkan). Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Perroto, R.S., & Culkin, J. (1993). Exploring Abnormal Psychology. New York: Harpercollins College Publisher.

Santrock, J.W. (2002). Life Span Development. Jilid 1 (terjemahan Achmad Chusairi & Juda Damanik). Jakarta: Erlangga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s